Memaknai Kecukupan Menurut Imam Syafi'i

Ditulis oleh rahmat Pada 17 July, 2021

Bagikan :


Memaknai Kecukupan Menurut Imam Syafi'i

Photo by Yasmine Arfaoui on Unsplash

Manusia adalah makhluk yang unik sekaligus menyimpan banyak misteri. Salah satu jenis keunikan manusia yang mampu ditebak alurnya adalah terkait keinginan seorang manusia.

Keinginan seorang manusia adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri seorang manusia, keinginan ini juga bersangkutan dengan manusia yang menjadi seorang konsumen. Dengan kata lain, manusia dapat diberi istilah sebagai makhluk konsumtif.

Terkait keinginan seorang manusia, hal yang akan kita temukan adalah tidak ada satu pun manusia yang bisa terbebas dari keinginan dan seorang manusia pasti memiliki keinginan. Ini adalah hal lumrah dan terjadi pada setiap manusia, bahkan penulis juga demikian.

Contoh sederhananya yaitu, ketika melihat sesuatu yang indah, seorang manusia pasti berkeinginan untuk memilikinya. Keindahan ini tidak terlepas dari kerelatifan keindahan pada diri seorang manusia, jadi seorang manusia memiliki keinginan atas keindahan dan keindahan yang diinginkan seorang manusia memiliki eksistensi yang berbeda.

Hal yang sering menjadi kekeliruan terkait keinginan manusia ini adalah penyamaan antara keinginan dengan kebutuhan. Jika kita cermati, tentu kedua hal ini memiliki eksistensi yang berbeda, sebab keinginan adalah sesuatu yang muncul dalam diri untuk sekadar memenuhi syahwat dan nafsu keduniawian, misalnya keinginan terhadap kepemilikan mobil sport yang mewah, meski telah memiliki mobil dan mampu berfungsi dengan normal. sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang dimanfaatkan manusia untuk melanjutkan kehidupannya di dunia, misalnya kebutuhan manusia akan makanan, minuman dan pakaian.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah memenuhi keinginan ini salah jika seseorang mampu memenuhinya?

Jawabannya sederhana, yaitu seberapa jauh seorang manusia mampu memenuhi kebutuhannya dan seberapa mampu seorang manusia memenuhi kebutuhannya. Misalnya, jika seorang manusia memiliki kekayaan dan mampu membeli dan mendapatkan yang diinginkan olehnya apakah itu semua akan berlangsung lama? Jawabannya tentu tidak, karena seorang manusia tidak memiliki batasan atas keinginan yang dimilikinya sedangkan manusia mau sekaya apa pun dirinya, tetap tidak akan mampu memenuhi segala keinginan yang diinginkan olehnya. Hal ini akan diperparah oleh ketidakberpihakan keinginan dengan kenyataan. Misalnya, keinginan seorang laki-laki terhadap seorang wanita, namun sang wanita tidak mau kepadanya. Masalah seperti ini tidak mampu diselesaikan dengan harta dan kekayaan, maka dengan itu, tidak ada gunanya memenuhi seluruh keinginan yang dimiliki seorang manusia karena mau bagaimana pun, keinginan seorang manusia akan kembali pada hukum awal yaitu, manusia tidak memiliki batas keinginan.

Pertanyaan yang akan muncul lagi adalah, bagaimana cara mengatasi keinginan manusia yang tidak terbatas ini, atau bagaimana cara meminimalisir keinginan pada diri seorang manusia. Jawabannya adalah menanamkan konsep Istighna (kepuasan) pada diri seorang manusia. Seseorang yang menanam konsep istighna dalam dirinya akan mampu membentengi diri dari sifat keinginan berlebihan terhadap dunia. Hal tersebut diakibatkan oleh konsep Istighna yang apabila telah tertanam maka semua potensi untuk memiliki sesuatu yang sia-sia akan hilang.

Imam syafi'i pernah berkata terkait Istighna yaitu "Al-istighna' 'anis syai'la bihi". Yang di katakan kecukupan adalah berusaha agar banyak hal tidak dibutuhkan, bukan mampu memenuhi semua kebutuhan"

Dalam perkataan imam syafi'i tersebut seolah-olah memberitahukan bahwa perasaan cukup atas segala hal akan mampu meredam keinginan atas segala hal. Sebab bukan memenuhi keinginan yang mampu menjadi solusi, melainkan meredam hawa nafsu yang menjadi kunci dari setiap masalah dan cara meredam keinginan itulah dinamakan dengan selalu merasa cukup atas segala keinginan, apa pun itu.

Contoh sederhana bahwa selalu merasa kecukupan adalah kebaikan yaitu, jika seseorang memiliki harta benda dan kekayaan apakah dia mampu mengendarai dua mobil secara bersamaan?

Jawabannya tentu tidak. Hal tersebut diakibatkan oleh jasad yang dimiliki oleh seorang manusia terbatas pada angka satu, sehingga merupakan hal yang mustahil apabila seorang manusia mampu mengendarai dua mobil sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

Contoh lainnya, apakah seorang manusia mampu tidur pada dua kamar yang berbeda sekaligus dalam waktu yang bersamaan, jawabannya tentu tidak bisa karena eksistensi wujud seorang manusia tidak mampu memenuhi dua realitas secara bersamaan, maka dengan itu, keinginan akan sesuatu yang berlebihan akan berujung sia-sia. Hal ini senada dengan apa yang sering dosen penulis katakan bahwa untuk apa berlebihan, toh kita ini seorang manusia yang sudah kenyang dari makan satu piring dan minum satu gelas air.

Intinya, semakin tertanam konsep Istighna dalam diri seorang manusia, maka akan semakin terhindar pula dirinya dari keinginan dan nafsu dunia yang menggebu-gebu.

Sumber: https://youtu.be/yLRUaAX6fVQ





Loading...




Loading...