Ikigai (生き甲斐) dalam islam

Bisa Anda dengar Penjelasan 1 menitnya disini : https://www.youtube.com/watch?v=uf8GAq58JLM Daftar Isi Penjelasan Ikigai Asal Ikigai Apa itu…

Ditulis Oleh zidan Pada Jan 2023

Cover for Ikigai (生き甲斐) dalam islam

Bisa Anda dengar Penjelasan 1 menitnya disini :

https://www.youtube.com/watch?v=uf8GAq58JLM

Daftar Isi

Ikigai sudah sering sekali saya dengar serta perbincangkan dengan teman-teman saya. Setelah melihat betapa menariknya konsep ini, saya pun ingin berusaha untuk melihat ikigai dengan posisi saya sebagai seorang muslim.

Sebelum saya melangkah lebih jauh mungkin Anda bertanya kenapa ikigai dapat di bandingkan dengan islam.

Menurut tulisan ini yang pada dasarnya menjelaskan kalau agama dalam bahasa jepang itu artinya bisa ke mana-mana dan salah satu hal itu adalah jalan hidup beserta filsafat.

Jadi di jepang itu bisa di katakan seimbang derajatnya antara ikigai dengan islam.

Penjelasan Ikigai

Ikigai sendiri sering di sebut-sebut sebagai sebuah tanggapan dari “hustle culture” yang kelihatan sebagai budaya “pengejar uang” yang kalau menurut konsep Ikigai itu merupakan hal yang dangkal karena kehidupan ini bukanlah semuanya tentang uang.

Asal Ikigai

Perlu saya jelaskan sedikit asal dari ikigai agar dapat lebih paham terhadapnya.

Ikigai yang jika di tulis dalam bahasa asli menjadi seperti 生き甲斐 sudah sangat jelas kalau hal ini berasal dari jepang. Lebih tepatnya pada bagian Okinawa.

Berikut gambar Peta untuk gambaran jelas di mana itu Okinawa :

okinawa

Bisa di lihat dari gambar di atas kalau Okinawa adalah pulau yang jauh dari perkotaan terkenal seperti tokyo dan merupakan pulau yang kecil pula.

Okinawa sendiri sudah termasuk dalam zona biru (blue zone) yang artinya orang-orang di sini adalah salah satu dari beberapa wilayah yang lebih sehat, lebih lama hidup dan pada dasarnya lebih bahagia.

Hal-hal seperti itu yang membuat beberapa penelitian tertarik terhadap Ikigai ini.

Apa itu Ikigai ?

Jadi sebelum kita melangkah lebih jauh kita perlu tahu dahulu apa itu Ikigai .

Secara etimologi (bahasa) Ikigai (生き甲斐) di bagi menjadi dua kata yaitu iki (生き) yang artinya jalan dan kai (甲斐) yang artinya sebuah timbal balik, hasil, buah, nilai, kegunaan, keuntungan, faedah. Yang kemudian jika di gabung kai ini berubah penyebutannya menjadi gai yang kemudian membentuk kata ikigai yang artinya adalah alasan untuk hidup, hal yang membuat hidup layak untuk di jalani, yang dalam bahasa francis persis artinya dengan raison d'etre.

Ikigai pada dasarnya adalah alasan yang membuat dirimu bangun dari tempat tidurmu dan menjalani kehidupan.

Mungkin ketika kita mendengar kalimat singkat itu, kita akan beranggapan kalau hal ini mirip atau sama dengan “passion”. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena pasion hanyalah satu hal dalam 4 pilar dalam Ikigai .

Ikigai itu adalah persimpangan dari 4 hal yaitu:

  1. Hal yang kamu cintai.
  2. Hal yang Anda lakukan layak untuk di bayar.
  3. Hal yang di butuhkan dunia.
  4. Keandalan Anda

Adapun ketika dua cuma diantara dua hal itu bersatu maka hal itu dapat mengakibatkan hal berikut.

  • passion = Hal yang kamu cintai + Keandalan Anda
  • Misi = Hal yang di butuhkan dunia + Hal yang kamu cintai
  • Vokasi = Hal yang di butuhkan dunia + Hal yang Anda lakukan layak untuk di bayar.
  • Profesi = Keandalan Anda + Hal yang Anda lakukan layak untuk di bayar.

Atau bisa juga digambarkan menjadi sebagai berikut

ikigai

Ikigai sendiri di percaya dapat membuat kita bahagia, dan hidup lebih lama. Hal ini tambah di percayai benar adanya karena Okinawa, kota asal dari filosofi Ikigai ini merupakan kota yang memiliki manusia berumur 100 tahun yang paling banyak.

Elemen-elemen Ikigai

Unsur-unsur Ikigai yang disampaikan oleh pelatih Ikigai, Vita Wahid, mencakup:

  1. Kepuasan Hidup Sehari-hari: Merujuk pada kepuasan dan kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas dan pengalaman sehari-hari. Ini melibatkan kesenangan dalam hal-hal kecil dan rutinitas yang membawa kebahagiaan.

  2. Kesempatan untuk Tumbuh dan Berkembang: Menyangkut kemampuan dan peluang untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Ini melibatkan peningkatan keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman.

  3. Koneksi dan Hubungan yang Baik: Menekankan pentingnya memiliki hubungan sosial yang sehat dan positif. Ini mencakup kualitas hubungan dengan orang lain, termasuk keluarga, teman, dan komunitas.

  4. Kebebasan untuk Berkarya dan Berekspresi: Mengimplikasikan kebebasan untuk mengejar passion, menciptakan, dan mengekspresikan diri. Ini berhubungan dengan memiliki ruang untuk kreativitas dan ekspresi diri.

  5. Kesempatan untuk Aktualisasi Diri: Terkait dengan mencapai potensi penuh diri, mengejar tujuan hidup yang bermakna, dan mencapai kepuasan diri yang mendalam.

  6. Optimisme: Merupakan sikap positif dan keyakinan bahwa hal-hal baik akan terjadi. Ini melibatkan pandangan positif terhadap kehidupan dan kemampuan untuk melihat sisi baik dari setiap situasi.

  7. Hidup Sesuai dengan Nilai-nilai yang Dianut: Mengisyaratkan pentingnya hidup dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sesuai dengan keyakinan pribadi. Ini mencakup keselarasan antara tindakan dan nilai-nilai yang dipegang.

Analogi dengan prinsip-prinsip Islam mencakup:

  • Bersyukur: Sejalan dengan kepuasan hidup sehari-hari dan optimisme. Dalam Islam, bersyukur dianggap sebagai tindakan yang penting dan mendatangkan berkah.

  • Memberikan Manfaat kepada Orang Lain: Mirip dengan konsep koneksi dan relasi yang baik. Islam mengajarkan pentingnya berkontribusi positif kepada masyarakat dan memberikan manfaat kepada sesama.

  • Hidup Sesuai dengan Nilai-nilai Islam: Mengisyaratkan keselarasan dengan prinsip hidup Islam, termasuk nilai-nilai moral dan etika yang dipegang oleh agama.

Integrasi elemen-elemen Ikigai dengan prinsip-prinsip Islam menunjukkan bahwa konsep mencari tujuan hidup yang bermakna, berkembang, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai dapat ditemukan dalam pandangan kehidupan yang diilustrasikan baik oleh Ikigai maupun Islam.

Buku "Finding Ikigai In My Journey"

Dalam bukunya yang berjudul "Finding Ikigai In My Journey," Vita Wahid menggabungkan konsep Ikigai melalui teori Mieko Kamiya, seorang psikiater Jepang yang diakui. Vita membahas bagaimana konsep Ikigai tidak hanya menjadi tren, tetapi juga dapat menjadi panduan dalam mencari makna hidup.

Buku ini menyoroti pentingnya kesadaran akan kesehatan mental dan self-awareness, yang menjadi pendorong utama popularitas Ikigai dalam beberapa tahun terakhir. Vita Wahid menjelaskan bagaimana peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental memotivasi orang untuk lebih terbuka terhadap konsep seperti Ikigai, yang dapat memberikan optimisme dan motivasi dalam hidup.

Selain itu, pandangan Inaya Wahid, seorang seniman dan aktivis, turut diungkapkan dalam buku ini. Inaya berpendapat bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal-hal besar, melainkan dapat muncul dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Buku ini menciptakan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana merayakan kebahagiaan dalam momen-momen kecil sehari-hari.

Dengan membaca "Finding Ikigai In My Journey," pembaca tidak hanya diajak untuk memahami teori Ikigai, tetapi juga untuk merenung tentang kesadaran diri, kesehatan mental, dan arti kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dapatkan promo bukunya Finding Ikigai In My Journey disini

Aturan dalam Ikigai

Hal-hal berikut sebenarnya lebih condong kepada hal-hal yang di percaya dapat membuat kita hidup “lebih baik”. tentu saja ini merupakan versi dari beberapa penelitian terhadap filosofi Ikigai ini.

  1. Jangan terlalu kenyang
  2. Terus berkembang
  3. Santai saja
  4. Berteman dengan orang yang baik.
  5. Berusaha untuk memperbaiki kesehatan
  6. Tersenyum
  7. Kembali terhubung dengan lingkungan
  8. Memberikan terima kasih
  9. Hidup secara “sadar” pada saat ini.
  10. Ikuti Ikigai mu

Cara menemukan Ikigai

Untuk menemukan Ikigai sendiri ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yang semoga dapat membantu kita menemukan Ikigai kita.

Hal-hal itu adalah

  1. Mulai dengan hal-hal yang kecil.
  2. Lepaskan dirimu.
  3. Harmoni dan keberlanjutan.
  4. Kebahagiaan dalam hal-hal kecil.
  5. “Be present” atau menemukan flow.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menuliskan beberapa hal, mungkin sepuluh atau lebih hal-hal yang sering kamu bicarakan beserta hal-hal yang sering kamu lakukan.

Lalu berusaha untuk menganalisa satu persatu hal itu dengan mengaitkannya dengan 4 pilar Ikigai yang kalau di susun akan berbentuk seperti ini :

  1. Apakah saya mencintai hal ini ?
  2. Apakah dunia ini membutuhkannya ?
  3. Apakah saya hebat di dalamnya ?
  4. Apakah saya bisa di bayar ? dan jika tidak apakah hal lain itu layak untuk menggantikan hal yang memenuhi ketiga aspek di atas ?

“Kesamaannya” dengan Islam

Menurut pandangan saya, hal-hal baik yang ada di Ikigai sebenarnya sudah ada di dalam islam itu sendiri.

Alasan saya mengatakan hal demikian dengan dukungan seperti hal-hal dasar dalam Ikigai itu sudah ada dalam bentuk dalil atau telah di contoh-kan oleh rasul (مُحَمَّد صَلَّىٰ ٱللَّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) beserta sahabat-sahabatnya.

Di dalam Ikigai itu 4 pilar utamanya dalam pemahamaan saya lebih menuju kepada bagaimana kita mencari pekerjaan yang membuat kita bahagia yang dengan kata lain bukan cuma mengejar besarnya rupiah-nya saja.

Hal ini sesuai dengan percakapan rasul dengan sahabatnya seperti berikut.

أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Artinya :

“Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad 4: 141, hasan lighoirihi)

Hal ini membuktikan kalau dalam pikiran para sahabat itu tidak pernah berfikir tentang seberapa besar gaji dari sebuah pekerjaan karena hal ini tak terlalu penting.

Hal lainnya seperti terhubung kembali dengan lingkungan.

من أحيا أرضا ميتة فله منها -يعن أجرا- وما أكلت العواف منها فهو ل صدقة

Artinya :

“Barangsiapa yang menghidupkan lahan yang mati/ terlantar maka ia memiliki bagian darinya, yakni (bagian) upah (dan atau pahala). Dan apa yang dimakan oleh binatang ternak dari (tanaman yang ada di lahan) itu, maka hal itu merupakan sedekah baginya” (HR Ahmad no. 14271 dan hadis ini shahih. Lihat Musnad Al Imam Ahmad ibn Hanbal, XXII/170, Muassasah Ar Risalah, Beirut, 1999).

Di dalam Islam kita di berikan hukum untuk memberi apresiasi yang sangat besar kepada orang-orang yang sayang dengan lingkungan.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang membuat ikigai itu nyata ada dalam islam, akan tetapi tulisannya akan menjadi sangat panjang.

“Perbedaanya” dengan Islam

Ada beberapa hal yang tentu saja dapat membuat orang berbeda pendapat terhadap apakah kedua hal ini harus di pisah, atau digabungkan. Mungkin menganggap kalau jalan hidup yang satu lebih baik dari pada jalan hidup yang lainnya.

Apa pun itu, keputusan oleh seseorang itu tidak dapat kita paksa untuk berubah.

Berikut adalah hal-hal yang saya tangkap berbeda antara ikigai dan islam :

Dalam Ikigai tidak ada konsep tuhan.

Karena Ikigai pada dasarnya bukanlah agama, jadi orang yang mengadopsi Ikigai terkadang memiliki agama mereka sendiri-sendiri atau dengan kata lain konsep tuhannya sendiri-sendiri yang tidak ada hubungannya dengan Ikigai.

Akan tetapi, karena arti Ikigai artinya adalah alasan untuk hidup maka terkadang juga tujuan hidup orang yang mengadopsi Ikigai ini mengambil gabungan 4 pilar itu menjadi tujuan hidupnya.

Dengan kata lain ada beberapa orang (terutama orang jepang) mengambil pekerjaannya sebagai konsep kehidupan yang sudah cukup (tak perlu tuhan).

Nah, di sinilah hal yang membuat islam dan Ikigai sangat berbeda karena dalam islam sendiri tujuan hidup seorang manusia itu hanyalah beribadah kepada-Nya seperti dalam surah Az-Zariyat Ayat 56 berikut.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Kesimpulan

Ikigai merupakan hal yang baik, islam juga merupakan hal yang baik.

Saya merasa kita akan mendapatkan Ikigai kita hanya dengan islam saja. Akan tetapi kalau Anda seperti saya yang kadang lebih duluan mengenal konsep di luar islam maka tak apa kita kembali membandingkannya dengan agama yang kita miliki.

Hal ini terus menerus saya lakukan untuk terus menerus mempertanyakan iman saya yang terus menerus perlu di tempa.

referensi buku Affliate kami

https://tokopedia.link/4wWyP1p01Eb

Referensi

https://savvytokyo.com/ikigai-japanese-concept-finding-purpose-life/

https://adibrofiqi.wordpress.com/2019/10/27/ikigai-prologue-dan-islam/

https://deviswitch.wordpress.com/2017/08/10/ikigai-dan-pemaknaan-akan-iman/

https://forkita.org/kimochi/kik136-1-islam-solusi-atas-ikigai-orang-jepang/

https://dalamislam.com/info-islami/tips-mencari-kerja-menurut-islam

https://en.wikipedia.org/wiki/Ikigai


Artikel Terkait

Cover for Cara Menangani Argumen

Cara Menangani Argumen

Ditulis Oleh

zidan

pada

Apr 2021

Berargumen sangat sering terjadi di kehidupan sehari-hari penulis, mulai dari hal terkecil sampai dengan hal-hal yang besar, mulai dari…

Cover for Apa itu blog ? (Tanggapan Untuk Statement Coki Pardede)

Apa itu blog ? (Tanggapan Untuk Statement Coki Pardede)

Ditulis Oleh

zidan

pada

Mar 2021

“internet bukanlah sebuah diary” ~coki pardede Walaupun secara perkata mungkin saja salah, akan tetapi hal itulah yang saya ingat ketika…