Agnostik, Apakah Menentang Fitrah Bertuhan Manusia?

Ditulis oleh rahmat Pada 08 July, 2021

Bagikan :


Agnostik, Apakah Menentang Fitrah Bertuhan Manusia?

Photo by Abdullah Al Malah from Pexels

Hal yang sangat lumrah ditemukan adalah perbedaan terhadap kepercayaan akan adanya tuhan atau tidak adanya tuhan. Ke dua kepercayaan ini merupakan sebuah permasalahan yang cukup serius, karena berpotensi besar untuk memunculkan gesekan sehingga berimbas pada kerusakan-kerusakan yang tidak diinginkan. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya bukti nyata terjadinya gesekan sehingga menimbulkan kerusakan adalah karena adanya perbedaan paham yang dianut oleh dua kubu yang saling berdekatan.

Melihat masalah yang muncul pada ke dua kubu ini, (kita sebut teisme dengan ateis) maka mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa ada minoritas manusia yang ternyata tidak mengikuti kedua paham tersebut dan menganut paham sendiri. Yang demikian itu disebut Agnostik.

Secara umum, agnostik merupakan sebuah paham yang menengahi antara paham teisme dengan ateis, atau dengan bahasa sederhana paham agnostik adalah paham yang berdiri diantara paham manusia yang percaya akan adanya tuhan dengan paham manusia yang tidak mempercayai akan adanya tuhan. Sehingga dapat di katakan bahwa orang-orang yang berpaham agnostik secara nyata tidak berada pada paham bertuhan dan tidak bertuhan.

Orang-orang yang berpaham agnostik ketika di beri pertanyaan "apakah anda percaya terhadap keberadaan tuhan atau apakah anda tidak percaya terhadap keberadaan tuhan" mereka akan menjawab tidak tau dibandingkan menjawab iya atau tidak. Hal ini diakibatkan oleh paham pemeluk agnostik yang membuat mereka tidak berani mengambil keputusan atas sesuatu yang ghaib layaknya tuhan, sehingga para penganut paham agnostik lebih cenderung kepada tidak memilih paham antara kepercayaan terhadap tuhan atau ketidakpercayaan akan adanya tuhan.

Orang-orang yang berpaham agnostik juga tidak mampu kita salahkan, sebab mereka hanya berusaha dan membutuhkan kepastian akan hal-hal ghaib, namun hal-hal ghaib juga memiliki alasan untuk tidak mampu dibuktikan secara gamblang dan kasat mata. Contoh sederhananya adalah tuhan. Orang-orang yang berpaham agnostik tidak mampu menjawab ada atau tidaknya tuhan, mereka akan berada pada jawaban tidak tau. Hal tersebut diakibatkan oleh tidak adanya pengetahuan yang mereka miliki tentang tuhan ditambah oleh wujud tuhan yang tidak mampu mereka lihat karena tuhan adalah sesuatu yang ghaib. Begitu pula sebaliknya, di dalam Islam tuhan memiliki alasan untuk tidak terlihat, karena jika tidak terlihat itu merupakan simbol keadilan yang diberikan kepada manusia. Logika sederhana dari tuhan yang tidak terlihat merupakan keadilan adalah, jika orang normal mampu melihat tuhan dengan jelas, lantas bagaimana dengan orang buta? Jawabannya tentu orang buta tidak akan mampu melihat tuhan, karena orang buta memiliki kekurangan terkait penglihatan.

Pembahasan umum terkait agnostik kita cukup kan, kita akan masuk ke pembahasan inti terkait judul pada tulisan ini.

Penegasan:

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan dan mendukung pihak mana pun, tulisan ini di buat untuk memaparkan apa yang penulis ketahui.

Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa paham agnostik adalah paham yang menengahi paham teisme dengan ateis dan hal yang melatarbelakanginya adalah keraguan akan pengetahuan terhadap sesuatu yang ghaib, maka para penganut paham agnostik hanya perlu hal yang mampu membuat mereka yakin terhadap keraguan yang mengusik paradigma mereka, ini di perkuat oleh bukti bahwa para penganut agnostik merupakan manusia sebagaimana manusia normal pada umumnya.

Jika kita fokus pada poin bahwa penganut paham agnostik adalah seorang manusia normal, maka pernyataan yang muncul kemudian adalah penganut paham agnostik juga memiliki fitrah-fitrah manusia. Dari alasan fitrah inilah, kita melihat bahwa terdapat sesuatu hal yang dilupakan oleh orang berpaham agnostik terkait keraguan mereka dalam menentukan pilihan terkait ada atau tidaknya tuhan. Yaitu, mereka melupakan fitrah manusia terkait kebutuhan manusia terhadap tuhan. Kesalahan ini juga yang dialami oleh para penganut paham ateisme.

Min apa maksud dari fitrah bahwa manusia membutuhkan tuhan?

Maksudnya adalah manusia tidak akan mampu terlepas dan bisa bebas dari segala perkara yang terkait dengan tuhan dan mirisnya adalah setiap perkara apa pun itu dan sekecil apa pun itu tidak terlepas dari yang namanya tuhan. Logika sederhananya adalah pada setiap hal, manusia sebenarnya membutuhkan bantuan, bahkan untuk sekadar melakukan aktivitas sehari-hari saja manusia membutuhkan bantuan. Bantuan terkecilnya adalah energi, manusia tidak akan mampu berjalan kaki jika tidak memiliki energi sebab manusia membutuhkan energi. Pertanyaannya adalah dari mana energi berasal? Apakah energi ada begitu saja? Jawabannya adalah energi berasal dari sesuatu yang menjadi sumber energi. Matahari? Tentu bukan!, bulan? Juga bukan! Lalu dari mana asalnya energi tersebut? Asalnya adalah dari sesuatu yang ghaib dan akrab disebut tuhan. Kenapa bisa energi tersebut berasal dari tuhan? Iya bisa! Sebab meski pun energi yang dibutuhkan manusia secara kasat mata berasal dari makanan namun apakah kita mampu menjawab asal dari semua makanan? Tentu tidak mungkin apabila kita menjawab ia ada sendiri dan tidak diciptakan. Nah apabila kita masuk pada kata diciptakan maka tentu kita akan berpikir bahwa siapa yang menciptakannya! Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakannya, apakah manusia? Tentu bukan.

Secara singkat kita akan terus berputar pada paradoks seperti di atas dan pada akhirnya kita tidak akan menemukan jawaban apabila kita tidak menjawab bahwa tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi.

Maka secara tidak sengaja, dari uraian pendek di atas menjawab bahwa orang yang berpaham agnostik menyalahi fitrah bertuhan manusia atau kebutuhan manusia akan adanya tuhan.

Penutup:

Manusia adalah makhluk bebas dan memiliki kebebasan hanya saja setiap kebebasan yang dimiliki oleh manusia jangan sampai membuatnya lupa bahwa ia juga berada pada lingkaran yang mengelilinginya sebagai seorang manusia dan jangan sampai seorang manusia melupakan bahwa dirinya adalah seorang manusia dan memiliki fitrah-fitrah yang tidak boleh ditutupi. Maka selayaknya, sebagai seorang manusia, dalam berpaham, jangan sampai mengalahi fitrahnya sendiri sebagai seorang manusia.





Loading...




Loading...