Fenomena Healing, apakah Gen Z manja?

Ditulis oleh rahmat Pada 12 March, 2022

Bagikan :


Fenomena Healing, apakah Gen Z manja?


Kamu aktif di sosial media? Atau perkumpulan-perkumpulan anak muda di daerah kamu? Apa yang menjadi topik hangat di pembahasan mereka?

Healing? Liburan? Atau apa?

Langsung yak, akhir-akhir ini, tema pembicaraan paling hangat adalah soal healing, dikit-dikit liburan, dikit-dikit refresing. Kira-kira ada yang tau kenapa topik itu sedang hangat-hangatnya? Ada yang tau tidak?

Ya menurut spekulasi penulis, fenomena itu disebabkan oleh generasi yang sedang aktif-aktifnya saat ini, melek self healing. Itu spekulasi pertama. Spekulasi ke dua adalah, bisa saja fenomena itu disebabkan oleh generasi saat ini yang manja.

Manja? Apa-apaan nih min.

Hehehe... Jangan tersinggung dulu yak, ayo kita bahas sama-sama agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Kita mulai dulu dari Gen Z.

Gen Z atau generasi Z adalah kumpulan orang-orang yang lahir pada tahun 1995 sampai tahun 2010. Umumnya Gen Z disebut I Generation, generasi internet atau generasi net. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya dan melakukan segala sesuatu dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada. Karena sering menggunakan teknologi sejak kecil, maka kehidupan mereka sangat terpengaruh oleh perkembangan teknologi.

Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh Gen Z adalah mahir dalam teknologi, sangat suka berkomunikasi, suka mengumbar apa saja yang dilakukan, di dapatkan bahkan privasi dan penuh ambisi.

Apa yang menyebabkan terbentuknya karakter Gen Z menjadi seperti itu?

Banyak faktor yang menyebabkan Gen Z menjadi karakter yang suka ngumbar, penuh ambisi mahir dalam teknologi dan suka berkomunikasi, diantara yang paling umum adalah:

Kebiasaan dari orang tua.

Kebanyakan orang tua Gen Z adalah orang tua yang juga sudah ikut pada perkembangan teknologi, sehingga memberikan sesuatu secara berlebihan kepada anaknya. Sesuatu yang berlebihan ini banyak macamnya, mulai dari mainan sejak kecil, kurangnya pembiasaan untuk bersikap non komsumtif dan kebiasaan-kebiasaan kurang baik lainnya.

Orang tua yang melakukan hal seperti ini, mengarahkan anaknya ke sifat manja dan memiliki emosi yang labil, sehingga meski pun si anak melek self healing, tetap saja anak akan berusaha mendapatkan ketenangan bukan dengan cara yang di ajarkan oleh self healing, misalnya belanja berlebihan dan sebagainya.

Sosial media.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sosial media, sebab ya sosial media memang seperti itu adanya, berisi jutaan konten. Mendidik dan tidak mendidik itu tergantung dari sudut pandang dan jenis konten yang di lihat.

Jika di perhatikan yang mengganggu dari sosial media adalah konten viral seperti mengumbar kekayaan/pamer harta, liburan, refreshing, belanja dan hal-hal lainnya yang serupa, meski pada alamat yang lain berisi konten yang berunsur mendidik. Tapi pertanyaannya, apakah gen Z lebih condong ke konten mengumbar kekayaan/pamer harta, hiburan, refreshing atau konten yang bernuansa pendidikan?

Jawabannya pasti lebih condong ke konten mengumbar kekayaan/pamer harta, hiburan, refreshing kan.

Kak, emangnya salah jika kami menikmati konten seperti itu?

Hmm... Ini nih pertanyaan orang yang mencari pembenaran.

Ya nggak salah, yang salah adalah sikap berlebihan, apalagi jika sampai menjadikan konten itu sebagai pedoman hidupmu (kek kitab suci aja).

"Saya harus kaya, lalu bisa pamer-pamer harta, bisa liburan kapan saja". Ini sih ngak ada yang salah, tapi coba ubah deh mindset nya, ke arah "saya ingin kaya, untuk membantu orang-orang, agar tidak kesulitan memenuhi kebutuhan" Kalau mau refreshing dan liburan ya jelas boleh tapi.. Tapi... Tapi jangan sampai merusak dan mengganggu khalayak umum.

Tidak siap dewasa

Dewasa sebenarnya apa sih?

Sudah punya penghasilan sendiri, atau hal-hal lain yang bersifat materi?!

Jawabannya tentu bukan, mau sekaya apa pun kamu, sebanyak apa pun materi yang kamu miliki, itu tidak menjamin kedewasaan lho.

Lalu apa itu kedewasaan?

Umumnya kedewasaan itu di tunjukan dari perilaku yang berdasar pada pola pikir matang. Ya sederhananya kamu dapat di katakan dewasa apabila kamu sudah mampu menentukan jawaban atas masalahmu dengan kepala dingin, tidak terburu-buru dan penuh pertimbangan (ini baru sebagian kecil dari apa itu dewasa).

Gen Z sebagai generasi yang waw saat ini kehilangan kedewasaan itu, sehingga meski pun melek teknologi dan agak peka dengan self healing, tetap saja mereka salah dalam mengambil langkah, contoh kesalahannya adalah lebih condong pada kebahagiaan yang bersumber dari luar (eksternal).

Lalu ada apa dengan wacana Healing, Liburan, Refresing atau semacamnya?

Tidak ada yang salah dari wacana itu, hanya saja si Gen Z sangat berambisi untuk memenuhi sesuatu yang katanya kebutuhan itu.

Saya butuh liburan!

Butuh? Ya kali, itu keinginan!

Tidak masalah apabila kamu ingin memenuhinya sekali dua kali, tapi jika menjadi syndrom wah itu yang tidak baik.

"Duh dapat tugas dari kampus, berat banget lagi tugasnya sampai-sampai susah buat ngechat doi" Ya gimana ya, itu kan resiko dari kamu kuliah di suatu kampus, awal masuk saja seakan kamu berikrar bahwa "saya Terima semua tugasnya, susahnya dan beratnya kuliah di kampus ini" Jadi hilangkan sifat mengeluh itu.

Ya intinya guys ya, kalau mau healing-healing, lakuin aja namun jangan sampai kegiatan itu jadi syndrom yang akan menggangu kegiatan dan pekerjaan kamu (kecuali kamu memang bekerja sebagai vlogger yang ngontenin tempat-tempat healing atau pekerjaan lainnya yang serupa). Jika kamu stress atau kesulitan coba deh kontrol diri kamu dengan melakukan banyak cara, misalnya positif self talk, yoga dan sebagainya.

Sekali lagi, jika kamu memang butuh healing, lakukan itu, asalkan healing itu tidak jadi sydrome di kamu.

Sumber

https://m.merdeka.com/jatim/pengertian-gen-z-serta-karakteristiknya-ketahui-agar-tak-keliru-kln.html





Loading...




Loading...