Ketindihan Dalam Sains

Ditulis oleh rahmat Pada 18 July, 2020

Bagikan :




Apakah Anda pernah merasakan ketika ingin bangun dari tidur tapi badan terasa seperti di tekan oleh sesuatu yang sangat berat, sampai-sampai badan terasa kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali ?

Kalau pernah, berarti Anda sedang mengalami fenomena yang biasa di sebut sebagai ketindihan. Fenomena yang kerap dikaitkan dengan hal-hal ghaib.

Tidak peduli dengan gendernya, hal ini bisa terjadi kepada siapa saja.

Kejadian ini pun bisa berlangsung dalam beberapa detik hingga beberapa menit.

Pada saat mengalami tindihan, seseorang akan merasa kesulitan bernapas, terjaga namun tidak mampu berbicara, mengeluarkan satu huruf pun tidak bisa.

Beberapa anggapan tersebar di masyarakat mengenai tindihan, salah satunya adalah

"apabila seseorang pada saat ingin bangun dari tidur lalu tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menindihnya dan pada waktu yang sama seluruh anggota tubuh tidak bisa digerakkan kecuali mata (tindihan) maka seseorang itu sedang diduduki makhluk ghaib”

kejadian ini di percaya erat oleh masyarakat terutama pada sekitaran yang belum terlalu maju bahwasannya, ada makhluk halus yang menindih tubuh kita, sehingga tubuh tak mampu di gerakkan.

Anggapan yang tersebar itu bukan tanpa sebab, karena pada saat seseorang mengalami ketindihan, seseorang terkadang berhalusinasi seperti melihat sosok atau bayangan di sekitar tempat tidur, bahkan kala sosok tersebut berada di atas tubuhnya.

Lalu sebenarnya tindihan itu apa?

Ketindihan sebenarnya di kenal sebagai sleep Paralysis.

Dalam sains, saat seseorang tertidur sebenarnya dia melewati empat fase secara berurutan, namun dari ke empat fase tersebut adalah tempat terjadinya ketindihan ini.

Hal ini pun terbagi menjadi dua bagian yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) yang terdiri dari 3 fase yaitu Kondisi setengah sadar, Kondisi akan terlelap, Kondisi mulai terlelap lalu pada Rapid Eye Movement (REM) terjadi fase terakhir yaitu Tidur dalam (bermimpi).

Ketika seseorang memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) detak jantung seseorang menjadi bertambah cepat, hembusan nafas menjadi cepat dan pendek serta gerakan mata yang lebih cepat juga.

Dalam fase Rapid Eye Movement (REM) ini, mimpi pun tercipta dan nampak objek-objek yang jelas, namun hal tersebut adalah mimpi, atau lebih singkatnya adalah proses bermimpi.

Pada fase Rapid Eye Movement (REM) ini lah seseorang kadang mengalami kelumpuhan saat tidur yang biasa di sebut sleep paralysis.

Sleep Paralysis terjadi apabila otak seseorang mengalami kondisi transisi secara mendadak antara tidur mimpi yang dalam (REM Dreaming Sleep) dengan kondisi sadar/terbangun.

Selama fase REM Dreaming Sleep otak seseorang mematikan sebagian fungsi gerak sebagian besar otot tubuh sehingga seseorang tidak bisa bergerak atau dengan kata lain seseorang merasakan lumpuh, namun tidak perlu khawatir hal ini hanya terjadi sementara saja.

Pada saat fase ini, selain mengalami kelumpuhan, seseorang juga akan terbangun secara mendadak.

Kelumpuhan sementara yang dialami ketika berada pada fase peralihan dari REM Dreaming Sleep ke kondisi sadar/terbangun secara mendadak ini rupanya adalah bentuk mekanisme perlindungan agar tubuh seseorang tidak melalukan aksi berjalan sambil tidur.

Kan ngak lucu kalo seseorang berjalan sambil tertidur, bisa-bisa seseorang itu jatuh di tempat yang tinggi dan beberapa kejadian lain yang tidak diinginkan.

Lalu bagaimana dengan bayangan atau sosok hitam yang biasa dilihat ketika mengalami tindihan, apakah itu pengaruh dari makhluk ghaib?

Sebenarnya bayangan atau sosok hitam yang biasa seseorang lihat ketika mengalami ketindihan itu adalah halusinasi semata. Hal ini terbentuk di otak sama seperti halnya ketika seseorang sedang bermimpi. Bayangan atau sosok hitam yang biasa dilihat oleh seseorang tergantung dari jenis budaya yang ada di lingkungan sekitar orang tersebut. Karena setiap wilayah atau negara memiliki konsep yang berbeda jadi seseorang yang mengalami ketindihan dan melihat sosok hitam akan melihat sosok yang berbeda pula tergantung dari budaya yang ada di sekitarnya.

Seberapa sering hal ini terjadi ?

Hal ini bukanlah sesuatu yang langka terjadi pada manusia atau lebih tepatnya hal ini terjadi setidaknya pada 4 dari 10 orang di dunia ini pernah mengalami hal ini, jadi Anda tak perlu merasa aneh jika pernah mengalami karena hal ini bukanlah hal yang jarang terjadi pada manusia.

Pertanyaan selanjutnya adalah, pada saat kondisi seperti apa seseorang akan mudah terkena Sleep Paralysis /tindihan?

Menurut penelitian medis, seseorang akan sangat mudah terkena sleep paralysis/tindihan apabila mengalami kelelahan berlebih dan kekurangan tidur. Bukan cuma itu, penggunaan obat pemenang dalam jangka panjang juga akan memicu terjadinya sleep paralysis/tindihan pada seseorang.

Lalu bagaimana cara mencegah atau meminimalisir terjadinya sleep paralysis/tindihan?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya sleep paralysis/tindihan. Beberapa cara tersebut antara lain:

  1. Tidur yang cukup.

Kekurangan tidur adalah salah satu penyebab seseorang mengalami sleep paralysis/tindihan, dan cara ampuh untuk menanggulangi terjadinya sleep paralysis/tindihan adalah dengan mengatur jam tidur dan memastikan bahwa tidur yang kita miliki cukup.

baca juga : https://muhzulzidan.com/hal-sederhana-dalam-meningkatkan-kualitas-tidur-anda

Ada beberapa orang uang mengalami kesulitan tidur, tapi hal tersebut bukan menjadi sebuah alasan untuk tidak tidur.

Untuk menanggulangi masalah tidur ini, banyak sekali cara yang bisa di coba dan praktekkan.

  1. Mengurangi stres/tekanan.

Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan berusaha mengurangi atau menghilangkan stres.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres, contohnya: adalah dengan melakukan hal yang kita sukai, misal: mendengarkan musik.

Sebenarnya stres juga dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang, karena stres dapat menyebabkan seseorang sulit terpejam sehingga hasil akhir yang didapat adalah kurangnya waktu tidur.

  1. Rutin berolahraga

Cara yang terakhir yang dilakukan untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya sleep paralysis/tindihan adalah dengan rutin berolahraga.

Olahraga dilakukan secara teratur dan tidak berlebihan.

karena segala sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tubuh. Contoh dampak buruk yang dapat ditimbulkan adalah cedera pada kaki atau lutut.

Rutin berolahraga juga berpengaruh terhadap tidur seseorang.

Bagi orang yang rutin melakukan olahraga, kualitas tidurnya akan lebih baik ketimbang orang yang jarang atau bahkan tidak melakukan olahraga. Nah, ketika kualitas tidur lebih baik, maka dapat mencegah atau meminimalisir terjadinya sleep paralysis/tindihan.

Referensi :

https://youtu.be/vZn76ITHffw