Memaklumi Sifat Manusia

Ditulis oleh rahmat Pada 07 August, 2021

Bagikan :


Memaklumi Sifat Manusia

Photo by Gustavo Fring from Pexels

Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan dengan berbagai macam keunikan. Keunikan yang dimiliki oleh seorang manusia kadang membuat temannya merasa kebingungan meski pun dia juga merupakan manusia.

Keunikan yang dimiliki seorang manusia melingkupi seluruh aspek kehidupannya. Baik itu sosial, politik bahkan agama atau kepercayaan seorang manusia juga akan dilingkupi oleh keunikan ini.

Sebagai contoh keunikan manusia, berikut ilustrasinya.

Misalnya A telah memberikan banyak sekali fasilitas kepada B, dan B menyadari bahwa ada banyak fasilitas yang diberikan kepadanya oleh A. Pada satu waktu, entah karena apa, tiba-tiba semua fasilitas yang diberikan oleh A seolah-olah dilupakan oleh B yang dibuktikan dengan ujaran B ke A dengan menggunakan kata-kata yang tidak beretika. A tentu bertanya, "B, kamu kenapa?, bukankah semua fasilitas telah aku beri!" dengan maksud yang berbeda, pertanyaan tersebut tanpa disengaja membuat B tersinggung dan semakin mengucapkan perkataan yang tidak baik di dengar.

Penegasan: Ilustrasi di atas tidak menafikkan adanya peran tuhan terhadap kehidupan seorang manusia.

Hal yang semisal dengan ilustrasi di atas adalah sesuatu yang lumrah ditemukan pada diri seorang manusia. Sehingga dengan itu, dapat kita simpulkan bahwa tak seorang pun manusia di dunia ini yang akan lepas dari yang namanya ketidakcukupan pola pikir sehat dan kenormalan dalam menyikapi setiap permasalahan pada beberapa waktu dalam satu dekade hidup seorang manusia yang diketahui terbatas. Hal demikian disebabkan oleh makna asal seorang manusia yang merupakan makhluk yang diciptakan, sehingga secara eksistensi tentu sangat jauh dari yang namanya kesempurnaan dan sangat akrab dengan kekurangan.

Manusia dengan segala sifat yang serba kekurangan merupakan kenormalan bagi pencipta. Karena bagaimanapun kesempurnaan amal dan pola pikir manusia tentu akan tetap berada pada batas manusia, hal demikian mampu dibuktikan bahwa ada batasan yang dimiliki setiap orang, yaitu dirinya adalah seorang manusia. Hal tersebut dibuktikan juga secara nyata oleh para nabi yang tentu telah kita yakini dan percaya bahwa nabi adalah sebaik-baiknya manusia. Misalnya Nabi Muhammad SAW yang pernah merasa cemburu terhadap istrinya Aisyah, dan beliau juga pernah menangis atas kematian anaknya yang bernama Ibrahim.

Terkait dengan kerumitan yang dimiliki seorang manusia, terkadang ada saja hal yang membuat sesama manusia tidak memposisikan diri sebagaimana seharusnya berhadapan dengan manusia, padahal dia juga seorang manusia dan yang menjadi objeknya juga seorang manusia.

Misalnya, A dan B merupakan seorang sahabat sejak kecil namun karena ayah A bekerja di luar kota, terpaksa A juga ikut bersama ayahnya. Menjelang beberapa tahun, A kemudian kembali ke kota yang dulu pernah dia tempati sekaligus kota tempat tinggal B. Karena akan kembali ke kota tempat tinggal B, A mengatakan kepada B bahwa aku akan berkunjung ke tempatmu hari ini jam 4 sore, mendengar ucapan tersebut, si B tentu mempersiapkan segalanya. Setelah jam 4 sore si A belum datang, jam 5 bahkan hingga larut malam si A juga tidak datang. Hal tersebut membuat si B merasa dikecewakan oleh si A sehingga membuat persahabatan mereka menjadi tidak baik.

Seperti contoh di atas, penulis yakin bahwa pembaca pernah mengalami hal yang serupa atau minimal pernah merasa dikecewakan orang lain.

Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut?

Jawabannya adalah kita harus memiliki sikap biasa saja dan kurangi berharap kepada manusia dan jika bisa, hilangkan.

Kenapa?

Karena dengan sikap tersebut, kita tidak akan pernah merasa dikecewakan lagi, sekaligus kita mampu memposisikan diri sebagaimana idealnya kita bersikap kepada seorang manusia.

Hal yang membuat manusia sangat mudah merasa kecewa adalah karena tingginya harapan kepada sesamanya manusia. Nah kebiasaan ini yang harus di hilangkan. Logikanya bahwa setiap hal yang kamu dapatkan dari manusia, sebaik apa pun itu pasti tetap memiliki batas kebaikan dan setiap batas kebaikan pasti akan berujung pada ketidakmampuan seorang manusia mengelolanya. Sehingga jika manusia telah sampai pada batas-batas kebaikan, yang terjadi ketika seseorang ingin menerapkan kebaikan tersebut pasti tidak akan sampai pada kebaikan. Malah akan berujung kekecewaan.

Contoh sederhananya, A memiliki uang sebanyak 10 ribu, ia berjanji kepada B bahwa ia akan memberikan uang itu kepada B 5 ribu. Hal ini membuat si B merasa senang sekaligus berharap bahwa dia akan di beri uang 5 ribu oleh A, namun ketika perjalanan menuju tempat B si A ditimpa kemalangan sehingga membuat ban motor yang dia kendarai bocor. Hal ini membuat si A harus memperbaiki bannya tersebut di bengkel dengan harga 10 ribu. Hal tersebut membuat si A tidak memberikan uang 5 ribu kepada B, karena tidak di beri, si B merasa di kecewakan oleh si A.

Dari contoh di atas, menerangkan bahwa seorang manusia akan selalu berada pada posisi ketidaksempurnaan, dan jika pun sempurna manusia hanya akan berada pada kesempurnaan seorang manusia. Artinya bahwa bagaimana pun sempurna=nya seorang manusia, dia akan tetap berada pada kekurangan, karena manusia tidak akan bisa sampai pada tahap kesempurnaan yang paling sempurna dari semua zat, sebab hanya tuhanlah yang maha sempurna dan dia tidak memiliki tandingan satu pun.

Kesimpulan:

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keunikan, salah satunya adalah keinginan untuk membuat orang lain merasa senang terhadap dirinya dan cara yang biasa manusia gunakan adalah berjanji. Dengan janji manusia akan disukai, dengan janji pula manusia yang menjadi objek akan berharap akan terwujudnya janji, namun ada yang salah pada manusia dalam memakai janji sehingga mengarahkannya pada harapan yang berlebihan. Manusia kadang lupa bahwa yang memberikannya janji adalah seorang manusia yang sama dengan dirinya dan tidak akan mungkin mampu sempurna dan kadang akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu selayaknya seorang manusia memaknai sifat manusia lain sebagaimana dia memaknai kekurangan dirinya dan mengurangi sikap berharap serta memiliki sikap biasa terhadap janji yang diberikan kepadanya agar tidak kecewa pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.





Loading...




Loading...