Mencapai sistem pendidikan yang baik Menurut Ivan Illich.

Ditulis oleh rahmat Pada 10 October, 2021

Bagikan :


Mencapai sistem pendidikan yang baik Menurut Ivan Illich.


Pendidikan adalah sebuah nyawa yang saat ini kontroversial, hal itu dapat kita lihat bersama melalui beberapa fakta di lapangan, yang tidak disengaja bahkan ada yang sengaja diadakan, misalnya program pendidikan yang tidak sesuai dengan realisasi lapangan, pendanaan yang seharusnya di butuhkan pada pendidikan namun tidak diberikan, misalnya kesejahteraan bagi para pengajar-pengajar honorer dan sebagainya. Khususnya di Indonesia Nadiem Makarim yang menjabat sebagai menteri pendidikan indonesia pada periode ini menyatakan bahwa ada 3 dosa besar yang dialami pendidikan yaitu, Intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan di lembaga pendidikan.

Ya... Meskipun kita sadari bahwa bukan hanya itu saja dosa yang dialami pendidikan, lebih tepatnya dosa yang dialami pemangku kebijakan pendidikan serta seluruh stakeholder yang berwenang.

Eittsss... Eitsss... Harusnya kan?!

Hussss... Stop, pembahasan kali ini tidak difokuskan untuk menanggapi atau memberikan komentar pada pernyataan yang disampaikan oleh menteri pendidikan kita itu. Namun kita akan fokus membahas mengenai tujuan pendidikan menurut Ival Illich.

Kalian penasaran?

Ayo kita masuk ke pembahasan.

Riwayat Singkat Ivan Illich

Sebelum kita masuk ke pembahasan, kita awali dlu dengan mengetahui sedikit riwayat hidup dari Ivan Illich.

Ivan Illich lahir di Wina pada 14 september 1926 di austria dan wafat pada 2 Desember 2002. Illich adalah seorang filsuf dan pengkritik sosial yang tidak konvensional pada beberapa bidang, seperti pendidikan, penggunaan ekonomi dan lain sebagainya.

Illich belajar teologi dan filsafat di universitas gregoriana di Roma dan menyelesaikan gelar Phd di universitas Salzburg.

Illich pernah menjadi wakil rektor universitas katolik puerto rico pada tahun 1986, ia juga mendirikan Centro de Documentación Intercultural (ClDOC, atau Pusat Dokumentasi Antarbudaya) di Cuernavaca, Meksiko pada tahun 1961. Selain itu masih banyak aktivitas yang dilakukan Illich semasa hidupnya.

Pemikiran Ivan illich tentang pendidikan.

Ivan Illich adalah laki-laki yang pada masa hidupnya dianggap sebagai seseorang yang memiliki ideologi anarkisme pendidikan. Anarkisme pendidikan adalah sebuah gagasan atau cara pandang yang lebih mendukung pemusnahan kekangan-kekangan lembaga pendidikan terhadap kebebasan makhluk yang menerima pendidikan. Artinya, seluruh ketidakbebasan yang disodorkan oleh lembaga pendidikan harus ditiadakan keberadaannya dalam sesuatu yang suci yaitu pendidikan.

Hal itu saya katakan karena ketika kita melihat seluruh catatan-catatan, tulisan-tulisan dan pemikiran Illich, maka akan kita temukan keterangan bahwa Illich adalah seseorang yang menentang pengekangan manusia oleh instansi/lembaga pendidikan.

Illich beranggapan bahwa sekolah mengelompokan orang dari segi umur yang didasarkan pada tiga bagian yang diterima begitu saja, anak hadir disekolah, anak belajar disekolah, dan anak hanya bisa diajar di Sekolah.

Ketika kita meresapi ke tiga pengelompokan diatas, maka akan kita temukan kekangan terstruktur dalam pendidikan, bahwa anak hadir di sekolah, anak belajar disekolah dan anak hanya bisa di ajar di sekolah. Ketiga komponen ini dapat berarti bahwa sekolah adalah sesuatu yang mengurangi kebebasan seorang anak yang seharusnya memiliki kebebasan untuk mendapatkan keuntungan berupa pengetahuan ekternal, kebahagiaan dan tidak adanya jadwal menentu yang memberikan beban kepada anak. Hal ini diutarakan karena, sekolah memberikan ketentuan yang mengharuskan fisik seorang anak berada di sekolah agar katanya mendapatkan pengetahuan. Atau dalam artian, hanya di sekolah saja seorang anak mampu mendapatkan pengetahuan. Hal ini tentu bertentangan dengan pendidikan yang sesungguhnya, bahwa pendidikan itu sangatlah fleksibel, atau dapat diartikan, seorang anak dapat belajar di mana saja dan seorang anak dapat belajar kapan saja. Bayangkan saja, jika seluruh ruang dimanfaatkan untuk pembelajaran dan sekolah di jadikan sebagai sesuatu yang bermakna bukan kekangan, maka tentu akan kita dapatkan seorang anak yang memiliki pengetahuan praktis tentang kehidupannya, bukan hanya dipenuhi oleh teori-teori belaka. Itupun jika anak paham akan teori yang dijelaskan gurunya.

Contohnya:

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang terstruktur. Memang tidak ada yang salah dari kata sekolah dan keberstrukturannya hanya saja paradigma yang tertanam pada kata sekolah dan keberstrukturannya mengakibatkan adanya perpindahan makna yang mengakibatkan sekolah tidak lagi berada pada orbitan yang sebagaimana mestinya. Hal ini dapat kita lihat pada sekolah yang mengharuskan siswa datang pada hari senin hingga sabtu secara berkala, hari ahad pun kadang di isi dengan aktivitas di dalam sekolah. Mungkin hal ini terlihat wajar, bahkan sangat lumrah kita lihat, tapi apakah kalian merasa ada yang aneh dari sekolah ini? Yap jawabannya tentu ada, yaitu kebebasan anak.

Kok bisa tau?

Ya itu semua berdasarkan pengalaman lingkungan.

Coba deh anda bertanya pada anak sekolah, apakah mereka menyukai pembelajaran di sekolah yang teratur mulai dari hari senin hingga sabtu? Jawabannya tentu tidak, iya kan. Mereka akan cenderung mengeluh tentang sekolah beserta tugasnya. Nah inilah yang di maksud kehilangan kebebasan. Seandainya saja, sekolah dilakukan dengan cara berbeda, seperti pemberian ruang seimbang antara pembelajaran dalam ruangan dengan luar ruangan, kemudian pengkolaborasian penggunaan metode pembelajaran yang anak sukai, tentu anak tidak akan mengeluh tentang sekolah, karena mereka merasa sekolah itu menyenangkan. Iya kan!

Nah itulah yang kurang dalam pendidikan kita, khususnya di Indonesia. Yaitu sistem pembelajarannya terlalu mengekang, seolah menghilangkan rasa menyenangkan bagi anak untuk belajar. Hal inilah yang mungkin menurut Ivan Illich menyimpang dari sekolah yang ada saat ini.

Sistem pendidikan yang baik menurut Ivan Illich

Dari keseluruhan kritiknya tentang pendidikan yang menurut Illich kurang baik, Illich berpendapat bahwa suatu sistem pendidikan yang baik harus mempunyai tiga kompenen, yaitu:

1. Memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat.

Setiap orang memiliki hak untuk berpengetahuan dan mendapatkan pengetahuan. Nah hak ini lah yang tidak ada dalam pendidikan yang ada saat ini. Yaitu hak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang mudah dan bebas setiap saat.

Sebuah sistem pendidikan yang baik, harus memberikan kesempatan pada siapa saja untuk memperoleh kebebasan belajar tanpa memandang ras, suku, etnis dan jenis kelamin. Hal ini didasarkan pada kebebasan manusia untuk memperoleh hak yang sama.

Jika kebebasan ini di terapkan dalam pendidikan, maka akan ditemukan keharmonisan dalam rumah tangga sekolah, begitu pula dengan rumah tangga masyarakat.

2. Memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dapat dengan mudah melakukannya, demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya.

Paradigma yang menyebar di masyarakat adalah tidak adanya kebebasan bagi orang yang ingin memberikan pengetahuan dengan mudah kepada orang lain, begitu pula sebaliknya, yaitu tidak adanya kebebasan bagi orang yang ingin mendapatkan pengetahuan itu. Hal ini berakibat pada tidak bermaknanya sebuah pendidikan, karena adanya paradigma bahwa yang berhak memberikan pengetahuan adalah yang lebih tinggi pengetahuannya, yang lebih tinggi posisinya dan yang lebih tinggi kedudukannya. Hal ini menutupi fakta bahwa setiap orang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain, dan sekaligus menutup kesempatan orang untuk memperoleh pengetahuan dan memberikan pengetahuan yang dimilikinya.

Jika seluruh orang bebas memberikan pengetahuannya kepada orang lain begitu pula orang yang ingin mendapatkannya, maka buta pengetahuan yang di alami seseorang akan teratasi.

3. Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan.

Setiap masukan yang masuk berkenaan dengan pendidikan akan berdampak positif pada pendidikan, karena masukan adalah sebuah penyampaian keburukan atau kekurangan-kekurangan yang bermanfaat bagi kesehatan lembaga pendidikan.

Sehingga dengan adanya masukan, maka akan mencegah dampak negatif pada pendidikan, menjamin kesejahteraan pendidikan dan sekaligus memberikan ruang untuk mencapai perkembangan pendidikan yang jauh lebih baik.

Penutup:

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang selayaknya memberikan ruang kepada siapa saja, tidak ada penggolongan pada penerima pendidikan, membuka kesempatan bagi setiap masukan yang bermaksud baik untuk pendidikan.

Meskipun tidak mudah dijalankan dan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit, tapi semua itu akan memberikan kontribusi baik bagi pendidikan.

Sumber:

Djohar Maknun: KRITIK ILLICH TERHADAP PENDIDIKAN

https://vm.tiktok.com/ZSeRCBMJs/

Zulfatmi, Reformasi Sekolah (Studi Kritis Terhadap Pemikiran Ivan Illich), Jurnal Ilmiah didaktika: Vol. 14, No. 1, agustus 2013

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ivan_Illich





Loading...




Loading...