Mengenal Ajaran Dokkodo (Miyamoto Musashi)

Ditulis oleh rahmat Pada 02 June, 2021

Bagikan :


Mengenal Ajaran Dokkodo (Miyamoto Musashi)


Dahulu di jepang ada tradisi duel antara samurai. Tentu dalam duel ini salah satu satu dari dua samurai akan mengalami kemenangan dan satunya lagi akan mengalami kekalahan. Seorang samurai yang kalah dan tidak mati pada duelnya akan menanggung malu seumur hidupnya, dan tidak sedikit yang melakukan ritual bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu akibat kekalahan yang dialaminya ketika duel.

Ada satu samurai yang sangat terkenal di jepang namanya adalah Miyamoto Musashi. Musashi diperkirakan lahir pada tahun 1584 dan meninggal pada tahun 1645. Nama lengkap dari Musashi adalah Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.

Musashi dapat dikatakan sebagai samurai nomor satu di Jepang karena Musashi memiliki fokus yang luar biasa. Musashi memenangkan duel pertamanya pada usia 13 tahun dan sejak memenangkan duel pertamanya tersebut, Musashi harus hidup dalam kesadaran sebab ada banyak orang yang mengincar kepalanya karena dendam atas kerabat-kerabat yang telah mati dan kalah di tangan Musashi melalui pertarungan. Tercatat hingga akhir hayatnya, Musashi memenangkan 61 kali pertarungan tanpa kalah.

Pertanyaan yang muncul kemudian bagaimana bisa seorang Musashi mampu memenangkan duel yang sebegitu banyak dan terhindar dari kematian atas orang-orang yang memburu kepalanya?. Jika boleh berpendapat , penulis beranggapan bahwa Musashi hidup dalam kesadaran atas dirinya sendiri atau dapat pula kita katakan bahwa Musashi tidur tapi tidak tidur.

Di akhir hayatnya, Musashi meninggalkan beberapa catatan yang bisa dikatakan sebagai rangkuman dari perjalanan hidupnya, semasa menjadi samurai yang tangguh. Catatan tersebut dapat kita sebut sebagai dokkodo yang di dalamnya terdapat 21 ajaran yang diritualkan oleh Miyamoto Musashi semasa hidupnya. 21 ajaran yang di tuliskan Miyamoto Musashi dalam dokkodo tersebut antara lain:

  1. Terima semua hal sebagaimana adanya.
  2. Jangan mencari kesenangan untuk kepentingan sendiri.
  3. Dalam situasi apa pun, jangan bergantung pada perasaan sesaat.
  4. Pikirkan diri Anda secukupnya, namun mendalam terhadap dunia.
  5. Lepaskan diri dari berbagai nafsu sepanjang hidup Anda.
  6. Jangan menyesali apa yang telah Anda lakukan.
  7. Jangan pernah cemburu.
  8. Jangan pernah membiarkan dirimu sedih dengan perpisahan.
  9. Kekesalan dan keluhan adalah tidak pantas untuk dirimu sendiri atau orang lain.
  10. Jangan biarkan diri terhanyut oleh perasaan nafsu atau asmara.
  11. Dalam semua hal jangan terikat pada pilihan tertentu.
  12. Tidak usah persoalkan di mana tempat tinggal Anda.
  13. Jangan mengejar makanan-makanan yang lezat.
  14. Jangan terikat pada harta yang tak lagi Anda butuhkan.
  15. Jangan bertindak mengikuti kepercayaan umum.
  16. Jangan mengumpulkan senjata atau berlatih dengan senjata di luar yang dibutuhkan.
  17. Jangan takut mati.
  18. Jangan tergiur untuk menguasai barang atau tanah di usia tua Anda.
  19. Hormati Buddha dan para dewa tanpa berharap bantuan mereka.
  20. Anda bisa mengabaikan tubuh sendiri tetapi harus menjaga kehormatan Anda.
  21. Jangan pernah menyimpang dari Jalan

Jika kita membaca sekilas 21 ajaran Dokkodo yang dituliskan oleh Miyamoto Musashi, maka kita tentu akan berpikiran bahwa 21 ajaran tersebut bukanlah ajaran rumit, malah terbilang sangat sederhana, mungkin kita pernah mendengarnya. Pertanyaan yang kemudian muncul kembali adalah, dari ajaran yang terbilang sangat sederhana tersebut apakah Anda mampu konsisten menjaganya, satu ajaran saja?.

Jika kita mencermati 21 ajaran Dokkodo yang dituliskan oleh Miyamoto Musashi, penulis sangat meyakini bahwa akan kita temukan kerumitan di dalamnya untuk menjalankan ajaran tersebut, karena untuk melaksanakan ajaran tersebut dibutuhkan keseriusan, kemauan, serta tekad kuat untuk bisa menaklukkan ajaran tersebut dan tentunya dibutuhkan kekonsistenan dalam mengamalkan 1 saja ajaran dari 21 ajaran Dokkodo yang ditulis oleh Miyamoto Musashi

Dari 21 ajaran Dokkodo yang dituliskan oleh Miyamoto Musashi, maka penulis merangkumnya menjadi beberapa point antara lain.

1. Terimalah keadaan bagaimana pun itu

Jika Anda berada pada satu situasi, baik itu situasi yang kamu impikan atau situasi yang tidak Anda inginkan, maka menjadi sebuah keharusan untuk menerima apapun situasi yang sedang Anda alami. Logikanya, bahwa jika Anda sedang bahagia maka Anda akan berada pada ruang lingkup bahagia tersebut, atau dapat juga dikatakan bahwa, Anda sedang berada dalam pelukan situasi yang menyenangkan. Begitu pun sebaliknya, jika Anda berada dalam kesulitan maka Anda akan berada dalam pelukan situasi yang sama sekali tidak mengenakkan. Karena Anda berada dalam pelukan situasi tersebut, maka sudah sepatutnya dan hal yang paling wajar adalah dengan memeluk balik situasi yang sedang memeluk Anda. Sebab bagaimanapun keadaan tetaplah keadaan, kejadian tetaplah kejadian dan sesuatu yang telah terjadi apalagi yang telah lewat adalah sesuatu yang tidak dapat Anda rubah alurnya. Berbeda halnya dengan masa akan datang, Anda bisa melakukan beberapa cara untuk menang atas tantangannya agar sesuai dengan apa yang Anda pikirkan tentang masa yang akan datang.

2. Kendalikan cinta dan nafsu Anda

Menjadi seorang manusia tentu tidak akan terlepas dari kata cinta begitu pula dengan kata nafsu, karena kedua hal ini merupakan dasar yang dimiliki seorang manusia, ke dua hal itu pula yang membuat manusia menjadi unik daripada makhluk lainnya.

Dengan adanya cinta dan nafsu, hal itu akan membuat manusia memiliki hidup yang bermakna sekaligus berwarna. Cinta akan berkaitan dengan perasaan, tentu didalamnya akan ada bumbu-bumbu yang membuat rasanya menjadi manis dan kadang pahit, sedangkan nafsu akan berkaitan dengan keinginan yang tentunya membuat Anda merasakan kegairahan dalam menjalani kehidupan. Meski dengan nilai-nilai positif yang dimiliki cinta dan nafsu, namun perlu kita ketahui bahwa terdapat banyak pula nilai-nilai negatif yang dimiliki keduanya. Misalnya cinta, seseorang yang merasakan cinta yang tidak wajar akan melakukan apa saja, bahkan rela untuk menghilangkan nyawa seseorang demi sesuatu yang dicintainya. Tak jauh berbeda dengan nafsu. Seseorang yang memiliki nafsu yang tidak tertahankan juga tidak baik, karena akan berpotensi merusak diri dan jiwa seseorang yang merasakannya.

Maka dengan itu, seyogyanya Anda mampu mengendalikan cinta dan nafsu yang Anda miliki agar tetap berada dalam taraf kewajaran.

3. Bertanggung jawablah atas diri Anda sendiri

Tanggung jawab dapat diartikan sebagai penanggungan atas segala hal yang berkaitan dengan perbuatan, misalnya jika Anda makan dengan porsi yang sangat banyak maka Anda harus siap menerima bahwa Anda akan merasakan kekenyangan dan jika Anda merasakan hal demikian maka Anda harus menanggung kekenyangan itu sebab Anda sendiri yang telah memakan makanan tanpa ada unsur luar yang ikut berperan di dalamnya.

Seperti contoh yang telah diilustrasikan diatas, maka dalam kondisi dan keadaan apapun maka kita harus bertanggungjawab atas segala hal yang terjadi, sebab tak mungkin sesuatu dapat terjadi apabila tidak ada pemicu yang membuatnya terjadi dan sebuah peristiwa yang terjadi pada diri Anda pasti memiliki sangkut pautnya dengan Anda, hal sekecil apapun itu. Contoh sederhananya tadi bahwa Anda tidak akan merasa kekenyangan jika bukan Anda yang memasukkan banyak makanan ke dalam perut Anda dengan volume banyak.

Hal ini karena setiap hal yang terjadi pada diri Anda adalah berkat peran Anda sendiri, maka sudah sepatutnya Anda bertanggungjawab atas diri Anda sendiri.

4. Jangan meratapi diri Anda

Kehilangan, ketakutan dan kesulitan adalah hal lumrah dalam kehidupan seorang manusia sebab manusia memang diciptakan seperti itu. Dalam logika dangkal saja kita dapat mengetahui bahwa manusia adalah sebuah ciptaan, dari kata ciptaan ini kita mampu menyimpulkannya menjadi kekurangan.

Dalam kalimat yang lebih sederhana dipahami bahwa sebuah ciptaan tak akan mampu mengalahkan pencipta dan sebuah ciptaan tidak memiliki kesempurnaan. Dilihat dari beberapa potensi tersebut, maka manusia yang berpredikat ciptaan tidak akan mampu terlepas dari yang namanya kehilangan, ketakutan dan kesulitan, tentu tiga hal tadi memunculkan kegelisahan hingga buntutnya akan sampai pada peratapan.

Pada umumnya, jika manusia mengalami kondisi yang menyulitkan dirinya, maka ia akan dihadapkan pada dua kondisi yaitu 1) melanjutkan perjuangan untuk menghunuskan kesulitan yang dialaminya dan 2) menyerah dan meratapi hal sulit yang menimpa dirinya. Tentu hal yang harus dilakukan adalah tetap melakukan perjuangan seperti pada poin pertama agar seseorang dapat mengalahkan zona tak nyaman yang dialaminya.

Jika kita mengalami kesulitan atau apapun itu yang berpotensi meresahkan, maka sekali-kali kita tidak dianjurkan untuk meratapi kesulitan tersebut. Bersedih boleh, sebab lumrahnya seorang manusia memang seperti itu hanya saja jangan larut pada kesedihan.

Logika sederhana bahwa apakah ketika Anda merasakan kesedihan kemudian meratapinya dapat menyelesaikan masalah tersebut? Jawabannya tentu tidak sebab masalah hanya dapat terselesaikan apabila dikerjakan bukan diratapi keberadaannya. Lalu apakah meratapi kesedihan memberikan keuntungan? Jawabannya tentu tidak, sebab meratapi hanya akan membuat seseorang semakin terkekang atas perkara yang membuatnya merasakan ketidaknyamanan, jika tidak terkekang minimal waktu yang dimilikinya akan terbuang percuma dan itu seharusnya digunakan untuk berjuang dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

5. Berpegang teguh lah pada pendirian Anda

Ada banyak sekali cobaan yang akan menerpa manusia, beberapa diantarannya adalah cemoohan, cercaan dan makian yang diutarakan orang lain kepada kita. Dalam menghadapi hal yang seperti itu, kita diwajibkan untuk menghadapinya dengan penuh kesabaran, karena bagaimanapun manusia memang seringkali melakukan hal-hal yang sadar tidak sadar kadang membuat orang lain harus berhadapan dengan ujian kesabaran.

Cercaan, cemoohan dan makian orang-orang yang dilayangkan terhadap kita kadang kali membuat pendirian yang kita buat menjadi tidak berguna, apalagi jika diperparah dengan ungkapan-ungkapan kebencian dan keburukan, tentu akan semakin memperkeruh suasana. Apabila seseorang tidak tahan dengan hal yang Seperti itu, maka seseorang akan sangat mudah beralih dari pendirian yang telah dibangunnya meskipun pendirian yang telah dibangunnya tersebut adalah pendirian yang telah benar dan tak sedikitpun menyimpang dari nilai-nilai kebaikan.

Apabila berada pada situasi dimana pendirian tidak menyimpang yang Anda miliki disudutkan, maka tak mengapa apabila Anda menutup telinga agar tidak mendengar hal-hal buruk tersebut, toh pendirian yang Anda bangun juga sudah benar dan tak menyimpang dari nilai-nilai kebaikan, jadi apa yang salah dari mempertahankan pendirian tersebut.

Jadi intinya berpegang teguh itu merupakan sebuah komitmen yang harus dilakukan setiap manusia terhadap apa-apa saja yang telah menjadi kewajiban dan keputusannya di masa lalu yang tentunya bernilai kebenaran dan tidak menyimpang dari nilai-nilai kebaikan, jangan sampai pendirian yang telah Anda buat goyah hanya karena ucapan orang-orang di luar sana.

Kesimpulan

Ajaran Dokkodo yang dituliskan oleh Miyamoto Musashi ini adalah ajaran yang akan sangat berguna bagi kehidupan Anda apabila Anda mencermati dan mengamalkannya, sebab dari 21 ajaran yang ditulisnya, Miyamoto Musashi tidak mengeluarkan ajaran yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan dan merugikan diri sendiri apalagi orang lain.

Dan terakhir dari penulis, Miyamoto Musashi dalam ajaran Dokkodo yang ditulisnya seakan meminta kita untuk mensyukuri apa saja yang ada dalam diri kita dan menerima segala hal yang telah terjadi. Miyamoto Musashi juga menekankan pada pengembangan pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya pada orang-orang di sekitar kita atau dengan kata lain kita harus hidup dengan penuh kesadaran bahwa kita manusia dan kita hidup di dunia yang serba bercanda, tak ada seorang manusia pun yang akan menolong kita setiap saat sesuai dengan keinginan kita, karena itu kita harus percaya pada diri sendiri dan pada tuhan yang telah menciptakan kita.

Referensi :

https://www.google.com/amp/s/rawAnda.blog/2020/06/13/miyamoto-musashi-dari-jalan-pedang-menuju-jalan-kesendirian/amp/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Miyamoto_Musashi





Loading...




Loading...