Loading...

Loading...

Pentingnya Perhatian (Didikan) Orang Tua

Ditulis oleh rahmat Pada 18 September, 2020

Bagikan :


Pentingnya Perhatian (Didikan) Orang Tua


Berbicara soal tumbuh kembang seorang anak, tak dapat di pungkiri bahwa akan terjadi sebuah proses pendidikan dalam perjalanannya.

Pendidikan ini akan dimulai sejak seorang anak keluar dari rahim ibunya hingga ia mengalami perpindahan alam yang biasa di sebut dengan kematian.

Menelusuri persoalan pendidikan, tentu tidak akan terlepas dari peran orang tua karena orang tua memiliki peran paling sentral bagi tumbuh kembang seorang anak.

Kenapa paling sentral?

Karena dari orang tualah seorang anak memulai debut penerimaan materi hingga seorang anak mencapai kematangan (mampu hidup mandiri) namun kematangan ini bukanlah sebuah pembenaran bahwa seorang anak akan berhenti dalam pencarian ilmu.

Mengulang lagi: pendidikan dimulai sejak lahir dan akan berakhir hingga mengalami kematian.

Seperti yang diketahui bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seorang pendidik dengan menanamkan nilai pada seorang anak (dalam dunia pendidikan seorang anak lebih dikenal dengan sebutan peserta didik/murid) dan dalam pencarian sebuah ilmu, seorang peserta didik/murid akan menempuhnya di mana saja dia berada (formal, informal dan non formal).

Dengan definisi yang lebih sederhana, bahwa pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek yang dimiliki oleh seorang manusia.

Hal yang paling memprihatinkan mengenai pendidikan pada saat ini adalah anggapan sebagian besar orang tua bahwa “hanya sekolah (formal) yang menjadi tempat menempuh pendidikan bagi seorang anak”.

Hal yang membuat orang tua sebagai pendidik sentral lupa dengan tanggung jawab yang ia miliki.

Padahal ada banyak aspek lain yang orang tua dapat ajarkan kepada Anaknya yang terkadang belum di ajarkan sekolah atau hanya perlu penegasan oleh orang-tuanya.

Seperti dengan peran orang tua dalam membimbing anaknya tentang tata cara bergaul dan berbaur dengan sesamanya (lawan jenis dan sesame jenis), sehingga tidak mengherankan jika seorang anak sulit untuk di kontrol.

Sebuah ungkapan “bahwa seorang anak tergantung bagaimana perhatian orang tuanya”.

Bagi penulis, ungkapan tersebut tidak perlu lagi ditafsirkan secara berlebihan, karena dilihat dari segi mana pun orang tua adalah tempat pertama bagi seorang anak untuk mendapatkan pengajaran.

Pengajaran seperti apa?

Tentu pengajaran dalam segala aspek, mulai dari etika/sopan santun, ilmu sosial dan jenis materi lainnya meski dalam pengajarannya orang tua mengajarkan hal-hal dasar dari materi-materi yang diajarkan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa orang tua juga menjadi pengajar anak-anaknya ketika usianya terus berlanjut (mulai dari bayi bahkan sampai dewasa).

Lalu kehidupan seorang anak akan seperti apa jika orang tuanya kurang perhatian (kasih sayang, pelajaran, arahan, kepedulian) terhadap tumbuh kembang seorang anak?

Dalam perkembangannya, seorang anak akan kurang mendapatkan sebuah hal yang sangat diperlukannya (ilmu-ilmu dasar).

Hal ini akan menjadi penyebab kegagalan (dalam segala aspek) bagi seorang anak.

Moral anak yang kurang baik, sehingga etika terhadap sesama, bahkan yang lebih tua darinya pun di sama ratakan, tidak menunjukkan sedikit tata krama (kesopanan), etika yang kurang baik, estetika yang kurang memadai, dan wawasan yang terbilang di bawah rata-rata karena orang tua yang kurang cekatan dan minim perhatian terhadap anaknya.

Tentu akan berbanding terbalik apabila orang tua memberikan pengajaran, perhatian serta kasih sayang pada sang anak, peka serta peduli terhadap segala bentuk kondisi sang anak.

Moral anak akan lebih memiliki nilai yang jauh lebih baik ketimbang tidak mendapatkan perhatian, etika yang terbentuk akan lebih baik.

Walaupun tidak dapat di pungkiri bahwa seorang anak tidak akan memiliki moral baik jika tidak dibimbing oleh orang tuanya, tapi persentase keberhasilan-nya lebih kecil ketimbang anak yang mendapat perhatian dari orang tuanya.

Lalu pertanyaan yang mungkin muncul lagi, Bagaimana dengan anak yang sudah diberikan perhatian (dididik, di beri kasih sayang yang cukup) masih saja sulit terbentuk kepribadian yang diharapkan ada pada dirinya?

Bagi penulis, lagi-lagi hal ini dikembalikan pada orang tua, apakah sudah membentuk suasana terbaik dalam memberikan materi pelajaran pada anaknya, apakah orang tua tidak membatasi tumbuh kembang anak dengan memberinya aturan-aturan yang malah berpengaruh buruk pada tumbuh kembang anak, dan apakah metode yang dilakukan orang tua sudah memenuhi keinginan seorang anak?.

Dalam hal ini, penulis tidak menganggap seorang anak sebagai orang yang keinginananya wajib dipenuhi, namun anak dimisalkan sebagai adonan siap bentuk yang cara membentuknya harus dengan kelembutan, bukan malah dengan tindakan semaunya, dan seenak hati orang tua, apalagi sampai memaksakan kehendak.

Hal ini akan menambah beban psikis bagi seorang anak.

Maka ke orang tualah semua beban awal dikembalikan ketika seorang anak tidak mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang bersifat positif, walaupun sebenarnya anak juga memiliki peran tersendiri dalam tumbuh kembang dirinya.

Sebagai orang tua tentu mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk anaknya, maka sebagai orang tua jangan terlalu berharap lebih apabila dalam memberikan perhatian pada anak saja masih kurang, memberi batasan yang berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.



Aturan Komentar

Komentar :

Nuur Aini

Memang benar. Terkadang karena org tua yg awam terlalu berekspektasi tinggi ttg keberhasilan anaknya. Anaknya harus begini begitu sesuai keinginan org tua tanpa tau apa pendapat dan perasaan sang anak. Sepertinya memang harus ada pembelajaran pra nikah. Supaya kita setidaknya tau cara mendidik anak sesuai dg tumbuh kembangnya supaya anak tidak mengalami gangguan psikologi di masa mendatang

Loading...




Loading...




Loading...