Loading...

Loading...

Peran Pemulung Dalam Penanganan Sampah

Ditulis oleh rahmat Pada 04 September, 2020

Bagikan :



Photo by Levent Simsek from Pexels

Tulisan ini berawal dari sebuah kisah nyata yang penulis alami.

Kira-kira pada pukul setengah delapan pagi.

Penulis hendak pulang dari sebuah tempat yang terasa cukup menenangkan, tempat kita bisa melihat terbit matahari dengan jelas.

Lanjut cerita, ketika hampir sampai pada gerbang keluar dari tempat itu, penulis menengok ke arah kanan, dan dari kejauhan nampak seorang bapak-bapak yang kira-kira berumur 50-an sedang berdiri melakukan sesuatu.

Semakin mendekat, semakin nampak jelas apa yang sedang dilakukan oleh bapak-bapak itu, iya, dia sedang mengais sampah dengan peralatan seadanya di pinggir yang menjadi pembatas laut dengan daratan.

Pemulung adalah seseorang yang mengumpulkan barang bekas atau sisa dengan tujuan dan maksud tertentu.

Kegiatan ini merupakan sebuah aktivitas untuk mencari nafkah (bagi yang menjadikan aktivitas memulung sebagai pekerjaan) dengan mendaur ulang sendiri atau menjual barang hasil pekerjaan kepada pengepul (bandar).

Dalam beberapa kasus yang penulis temukan, lebih dari 50% orang menganggap pekerjaan pemulung sebagai hal yang ber-konotasi negatif (pekerjaan yang buruk), namun sejatinya pekerjaan pemulung ini tidaklah buruk.

Sebagian besar aktivitas dunia akan bersinggungan dengan aktivitas penciptaan barang sisa yang lebih populer dikenal dengan nama limbah.

Contohnya ketika membeli makanan di pinggir jalan, maka besar kemungkinan akan ada pembungkus yang kemudian dijadikan sebagai pelindung makanan (maksud awalnya baik),

Pembungkus makanan yang terbuat dari berbagai macam jenis bahan, ada yang berbahan plastik, kertas, dan lain-lainnya.

Tentu hasil akhirnya, barang sisa atau limbah ini akan terus bertambah.

Satu lagi masalahnya, aktivitas ini terus dilakukan setiap hari bahkan tidak jarang beberapa orang melakukan aktivitas ini berulang kali dalam sehari.

Lalu bagaimana dan apa dampak dari limbah tersebut ?

Banyak sekali dampak yang dapat ditimbulkan, mulai dari kerusakan lingkungan pada air, tanah dan udara.

Untuk lebih mengetahui dampak dari limbah maka perhatikan ilustrasi berikut.

Seorang bapak rumah tangga membeli kebutuhannya selama seminggu di pasar tradisional, ia membeli beras, minyak goreng, susu dua kaleng, beberapa bungkus mie dan beberapa kebutuhan lainnya.

Kemudian ia menyerahkan semua barang belanjaannya pada istrinya untuk diolah menjadi makanan.

Hasil dari pengolahan bahan tadi terbagi menjadi dua, yaitu

  1. menjadi makanan yang siap di komsumsi,
  2. menjadi sampah/limbah ( limbah rumah tangga (domestik) ).

Sisa yang menjadi sampah/limbah akan di buang pada saluran pembuangan yang tertuju pada selokan, lalu mengalir ke sungai, hingga akhirnya sampai ke laut.

Pada proses perjalanan dari limbah ini, maka akan mencemari lingkungan yang dilewatinya (apalagi jika kejadian ini terjadi terus menerus dan tanpa jeda) dan tentu akan berdampak buruk bagi ekosistem yang ada di sekitarnya.

Setelah sampai pada titik akhir (laut) di sinilah tempat pengrusakan oleh limbah paling parah, ekosistem yang didiami oleh sampah/limbah akan mengalami kerusakan, biota-biota di dalamnya akan mengalami kematian (yang rugi juga manusia namun parahnya lagi yang melakukannya adalah manusia).

Hal seperti di atas akan terjadi jika limbah tidak diolah dan diberikan perhatian khusus, yang kebanyakan tidak terjadi.

Berdasar dari ilustrasi di atas, kira-kira pemulung berperan sebagai apa ?

Berdasar realita yang kita lihat sehari-hari, pemulung berperan menekan banyaknya jumlah limbah yang dihasilkan setiap hari.

Walaupun tidak semua jenis limbah yang dikaisnya, namun kegiatan mereka mampu menjadi penekan utama bagi limbah-limbah yang sulit terurai oleh alam.

Contoh, Limbah Plastik.

Limbah jenis ini sangat sulit terurai, di tanam hanya akan membuatnya merusak dan mencemari lingkungan tanah di sekitarnya, di bakar tidak akan mampu mengurainya secara tuntas.

Di sinilah letak peran pemulung yang mencari limbah-limbah plastik lalu kemudian mereka jual atau di produksi sendiri menjadi beberapa barang yang memiliki nilai jual.

Dilihat dari contoh, maka pemulung memiliki peran yang cukup penting dalam menekan populasi sampah di lingkungan.

Begitu pula dengan pemulung yang dilihat oleh penulis, ia juga melakukan hal yang sama, melakukan penekanan populasi sampah yang berpotensi besar merusak lingkungan beserta segala ekosistem di sekitarnya.

Lalu bagaimana dengan konotasi negatif mengenai pemulung?

Bagi pribadi penulis, hal ini juga kadang menjadi sebuah pertimbangan tersendiri, sebab dalam beberapa kasus, terdapat peristiwa yang menyebabkan nama aktivitas memulung menjadi buruk dan bernilai negatif di mata masyarakat.

Contoh : adanya barang milik warga yang hilang karena besar dugaan akibat ulah tangan pemulung.

Yah sebagai manusia kita tidak bisa menghilangkan secara penuh sifat kecurigaan dan kewaspadaan terlebih lagi jika mendapat sebuah kasus yang bersangkutan dengan lingkungan tempat tinggal, sehingga dengan adanya watak seperti itu, bukan hal yang mustahil untuk memunculkan dugaan negatif mengenai pemulung.

Namun, kita juga harus melihat dari sudut pandang lain, pendapat lain bahwa dugaan negatif hanya akan menimbulkan kecurigaan yang berlebih, dan akhirnya akan menimbulkan tindakan rasis.

Oh iya, jangan sampai lupa juga bahwa setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, sehingga menjadi sebuah penguat bahwa pemulung dengan segala aktivitasnya tidaklah buruk sebab di tangan merekalah jumlah populasi limbah dapat berkurang.

Jika dilihat dari sudut pandang lain dan diperhatikan menurut kacamata logika, maka dugaan negatif yang berkaitan dengan pemulung dengan segala aktivitasnya dapat dihilangkan.

Kenapa tidak, karena jika setiap aktivitas mereka menghilangkan segala jenis barang berharga milik warga, lantas kenapa sampai sekarang barang berharga milik kita masih ada? Jika setiap aktivitas mereka buruk, lantas bagaimana cara kita yang kurang memperhatikan limbah (minimal limbah hasil rumah tangga kita) mengurangi dan menekan populasinya? Jika setiap aktivitas mereka tidaklah baik, lantas siapa lagi yang akan menjaga bumi yang katanya sangat kita cintai dari serangan limbah-limbah perusak lingkungan?

Tentu jawaban dari setiap pertanyaan tersebut adalah karena adanya pemulung dengan segala aktivitasnya dan setiap apa yang mereka kerjakan tidaklah buruk, dengan kalimat yang lebih sederhana, tidak semua pemulung memiliki pikiran kriminal, dan predikat baik ini (tidak memiliki tindakan kriminal) dipegang oleh mayoritas pemulung.

sehingga apa lagi yang membuat kita merasa risih jika ada pemulung di sekitar kita? Apa karena mereka dekil? Apa karena mereka berpakaian kotor, lusuh?



Aturan Komentar

Komentar :

Icha

Waw, sulit dipercaya.... Alhirnya ada tuliaan yg mengangkat profesi termulia itu..

Loading...




Loading...




Loading...