Sekularisme dan Agama (Islam)

Ditulis oleh rahmat Pada 05 February, 2021

Bagikan :


Sekularisme dan Agama (Islam)


Daftar Isi

Mengenang kembali tentang beberapa kebebasan yang salah tempat, kesalahan yang tidak membiarkan agama untuk ikut andil dan berpartisipasi di dalamnya meski secuil. Kebebasan ini melingkupi beberapa persoalan yang kemudian menimbulkan berbagai macam kegaduhan ketika dipertemukan dengan agama, meski jika dilihat dari sudut pandang mana pun, agama bukanlah sesuatu yang meladeni, melayani apalagi membentuk kegaduhan yang mengakibatkan perpecahan.

Kebebasan yang salah ini dikenal dengan nama “Sekularisme” kenapa penulis menganggap sekularisme dengan kebebasan yang salah, akan penulis ungkap di bawah.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan membahas terlebih dahulu tentang istilah dan pengertian atau definisi sekularisme.

Pengertian Sekularisme

Istilah sekularisme secara historis pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoale pada tahun 1841. Pada awalnya sekularisme merupakan perluasan kebebasan berpikir dalam bidang etika.

Dengan demikian, jelas bahwa sekularisme tidak lain tidak bukan merupakan suatu sistem etika; yakni sistem yang menyodorkan mengenai prinsip-prinsip kehidupan tentang apa, bagaimana, dan harus ke mana manusia hidup; atau bagaimana seharusnya manusia itu bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai suatu sistem etika, sekularisme mengajarkan manusia untuk terus meningkatkan taraf hidupnya dengan cara mencari kebaikan di dunia lewat kemampuan manusiawi tanpa terikat dan merujuk pada agama atau ajaran agama yang bersifat adikodrati. Merujuk pada besarnya kebaikan di dunia tanpa memperhitungkan bagaimana kehidupan selanjutnya yang di ayang-ayangkan oleh teks agama. Sekularisme hanya memandang kehidupan dari segi keduniaan saja, dan menolak iming-iming agama tentang kehidupan setelah mati, yang akan ada ganjarannya berupa surga bagi yang taat dan neraka bagi yang ingkar.

Dapat pula diartikan bahwa sekularisme adalah paham yang berpandangan bahwa agama tidak berurusan dengan persoalan keduniaan yaitu persoalan politik dan sosial budaya. Agama cukup bergelut dengan ritual keagamaan. Melihat pengertian ini, jika di ibaratkan dengan manusia ia (sekularisme) akan berdialog bahwa “kamu (agama) tidak punya wewenang, hak, bahkan kesempatan untuk berada dan berkontribusi dalam negara, kontribusi ini dalam lingkup politik dan sosial budaya yang telah kita ketahui bersama bahwa negara melingkupi elemen-elemen masyarakat yang memiliki hierarki berbeda pada setiap daerah.

Sekularime mengandung kata meragukan tuhan dan agama di dunia dalam arti luas. Atau dapat dikatakan “tuhan dan agama belum ditolak secara tegas dan di terima secara tegas hanya saja secara eksplisit memiliki kecenderungan adanya ateisme dalam sekularisme”, sehingga dapat dikatakan bahwa sekularisme terhitung sebagai paham yang meniadakan tuhan dalam persoalan politik dan sosial budaya.

Dari beberapa penjelasan di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa sekularisme adalah sebuah paham yang para penganutnya beranggapan bahwa agama adalah sesuatu yang menghambat tercapainya suatu kesuksesan pada lini keduniaan, menjadikan agama sesuatu yang dianggap sebagai hal yang sekadar khayalan dan harapan yang isinya berkaitan dengan sesuatu yang abstrak dan tak mampu menjamin kesejahteraan hidup di dunia.

Setelah mengetahui sedikit tentang sekularisme, selanjutnya kita bahas tentang agama untuk mendapatkan sedikit pengetahuan tentang agama, bahwa agama itu apa?

Agama Itu Apa?

Banyak ahli menyebutkan agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau (teratur).

Dengan demikian agama itu adalah peraturan, peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama. Sehingga dalam arti teratur ini, agama menjamin arti kesejahteraan, administrasi lini kehidupan, keselarasan yang menciptakan kedamaian.

Dapat pula diartikan bahwa agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan dan peribadatan Kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan kehidupan.

Jika di lihat dari nash-nash dan penyampaian tuhan dalam kitab, agama menganjurkan kebaikan serta menjelaskan bagaimana tata cara berbuat kebaikan, hal-hal fasik yang perlu di jauhi. Penjelasan-penjelasan tersebut disampaikan dengan keelastisan makna sehingga selalu dapat mengikuti perkembangan dalam periode kehidupan manusia.

Dari penjelasan di atas, penulis dapat mengatakan bahwa agama adalah sebuah peraturan, tata kehidupan, nilai, norma yang penganutnya percaya bahwa peraturan, tata kehidupan, nilai, norma tersebut berasal dari suatu zat yang memiliki sifat ke-”maha”-an atau dalam artian yang lebih luas, agama adalah hal yang mengatur seluruh perilaku, kegiatan dan keseharian seorang manusia mulai dari terbangun tertidur hingga terbangun kembali.

Sekularisme Dengan Agama Bertentangan

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sekularisme dengan agama itu bertentangan?

Ya tentu, bahkan bisa di katakan sangat bertentangan.

Sekularisme adalah paham yang di dalamnya berisi anggapan-anggapan yang menentang adanya agama pada kehidupan berpolitik dan sosial budaya, sedangkan agama adalah sebuah sistem yang di dalamnya mengatur tentang peribadatan terhadap zat yang dianggap paling agung se-jagad semesta.

Jika di lihat dari kedua titik tekan antara sekularisme dan agama, maka kedua kata tersebut tidak akan mampu berada pada satu naungan, karena keduanya memiliki titik pembeda dan tingkat kesenjangan yang terlampau sangat jauh. Jika di ibaratkan, sekularisme dan agama dipisahkan oleh jurang dalam yang masing-masing setiap sisi di isi oleh kedua hal tersebut, yaitu sekularisme dan agama.

Jika kita pantau dari individu seorang manusia, pengadaan sekularisme tidak mampu dibenarkan eksistensinya karena keberadaan sekularisme ditentang oleh adanya pribadi manusia meski pun itu secara tidak langsung, bahkan oleh pemegang paham sekularisme itu sendiri.

Kenapa? Karena manusia adalah satu komponen biologis yang memiliki keterkaitan dan kebutuhan terhadap zat agung yang disebut dengan tuhan. Kebutuhan pada zat agung tersebut di tandai dengan kebutuhan manusia dengan sesamanya sebagai makhluk sosial.

Pertanyaannya adalah kenapa manusia sebagai makhluk sosial dijadikan alasan sebagai bentuk butuhnya manusia terhadap tuhan?

Jawabannya yaitu, ketika seorang manusia berada dalam kesulitan dan hanya dirinya seorang yang berada pada satu periode waktu dan tempat maka ia akan mencari sesuatu yang mampu menutupi ketakutannya, meski kebutuhan ini tidak dijabarkan secara langsung sebab manusia akan sangat sulit menemui keadaan di mana dirinya akan sangat membutuhkan sesuatu yang tidak mampu di jangkau oleh dirinya sendiri.

Sebagai contoh dari penjelasan di atas, ketika manusia berada dalam satu ruang yang di dalamnya dihiasi dengan beragam kesulitan maka manusia akan bertanya kenapa ini terjadi, siapa yang menyebabkannya dan apakah ada yang mampu membantu menyelesaikannya.

Jawabannya tentu tidak spontan ada, namun ketika dalam kondisi dan berposisi seperti ilustrasi tersebut, manusia akan mencari bantuan hingga pada lubuk terdalam hatinya.

Pertanyaannya apakah seorang manusia sendiri mampu menciptakan hatinya? Jawabannya tentu tidak.

Sehingga dengan keadaan tersebut manusia yang mencari sesuatu yang entah apa itu bentuk dan wujudnya akan menjelma kepada pencahariannya terhadap zat maha kuasa yaitu tuhan. Hal itu diakibatkan karena manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan terhadap apa pun yang ada di sekelilingnya, karena pada hakikatnya manusia adalah ciptaan.

Jika kita lihat dalam pandangan satu negara, maka akan lebih besar lagi tingkat keberadaan agama sebab dalam negara terhimpun banyak kepala yang di dalamnya memiliki keanekaragaman kebutuhan terhadap tuhan, ini sejalan dengan apa yang penulis jelaskan di atas, bahwa manusia adalah makhluk yang akan selalu butuh terhadap sesuatu yang membuatnya butuh, dengan bahasa sederhana dapat diartikan bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan di segala aktivitasnya.

Cara untuk terhubung kepada zat yang dibutuhkan itu adalah agama. Agama adalah jalur penghubung antara manusia dengan tuhannya, sebab dalam agama dijelaskan bagaimana tata cara berhubungan dengan tuhan yang ditunjukkan dalam bentuk kepatuhan dan ketaatan atas perintah-perintah tuhan yang tentunya hal tersebut dipaparkan dengan jelas dalam agama.

Cara berhubungan tersebut akrab disebut ibadah. Beribadah adalah suatu bentuk penghambaan seorang manusia kepada tuhannya dan dengan beribadah manusia akan merasa tentram karena kebutuhannya terhadap tuhan membuatnya harus melakukan ibadah.

Agama mana pun, mengajarkan untuk berhubungan baik dengan tuhan. Maksud berhubungan ini disesuaikan dengan tuhan dari setiap agama, misalnya pada agama islam, tuhan pada agama islam adalah اللّٰه سبحانه و تعال, maka ajaran-ajaran dalam agama islam adalah cara bagaimana menaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang ada dalam segala lini kehidupan manusia.

Peraturan-peraturan ini meski tidak di kaji lebih dalam, atau dilihat secara kasat mata non logika saja sudah mampu dijabarkan bahwa agama tidak anti terhadap perpolitikan dan sosial budaya, bahkan agama mengatur praktik politik dan sosial budaya karena agama cocok dalam segala jenis lini kehidupan manusia di dunia bahkan hingga di akhirat, bagi yang percaya tentang adanya akhirat.

Sekularisme tentu berbeda dengan agama, jika di nilai dan di kaji lebih dalam maka akan ditemukan sebuah kesimpulan bahwa agama jauh lebih cocok digunakan dalam sistem kenegaraan dibandingkan dengan sekularisme. Sebab agama mampu dijadikan sebagai pengawas segala kegiatan dengan menjadikan pahala dan dosa sebagai pegangan erat ketika bertindak dalam kegiatan politik dan sosial budaya. Dengan menjadikan agama sebagai pengawas sistem kenegaraan dan sosial budaya serta pahala dan dosa sebagai pertimbangan dalam berbuat maka dalam tata kenegaraan akan lebih terkontrol dibandingkan dengan penggunaan sekularisme sebagai pemegang tertinggi paham yang digunakan dalam negara karena dengan agama sebagai pemegang kontrol maka semua lini dalam sistem kenegaraan berdasar pada nilai-nilai keagamaan yang tentu terjamin hukum-hukumnya, bahwa agama tidak pernah mengajarkan kemungkaran dan akan selalu mengajarkan dan menuntun untuk berbuat kebajikan. Hal tersebut dinyatakan karena agama berdasar pada perintah-perintah tuhan yang semua perintah tersebut tak satu pun yang merugikan manusia.

Sekularisme Adalah Kebebasan Yang Salah

Selanjutnya penulis akan menjawab pernyataan “bahwa sekularisme adalah kebebasan yang salah”.

Penulis menyatakan hal tersebut karena dilihat dari definisi dan hakikatnya saja sekularisme sudah menentang eksistensi manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan dan perlu akan adanya tuhan, dan agama dibutuhkan dalam segala lini kehidupan termasuk politik dan sosial budaya.

Dengan kata lain, agama diperlukan ada untuk urusan politik dan sosial budaya, hal tersebut ditujukan karena agama dapat dijadikan sebagai pengontrol paling baik dalam kegiatan berpolitik dan sosial budaya. Sehingga dengan ini, penulis menyatakan bahwa agama sangat diperlukan dan dibutuhkan keberadaanya dalam segala lini kehidupan dan sangat menguntungkan jika agama dijadikan sebagai pengontrol politik dan sosial budaya sebab dengan agama sebagai pengontrolnya maka seluruh kegiatan akan bernilai positif, itu disebabkan karena ajaran-ajaran agama berisi nilai-nilai kebaikan.

Sekularisme dari sudut pandang mana pun hanya mampu mempertahankan eksistensinya dalam sedikit lini, maksudnya sekularisme adalah sesuatu yang hanya bisa bertahan dalam ruang lingkup kecil , berbeda dengan agama yang memiliki ruang lingkup luas dan mampu mengatur dan mengontrol semua lini, bahkan sejak manusia bangun dari tidurnya hingga tertidur kembali.

Dengan pernyataan-pernyataan di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa sekularisme dan agama adalah dua hal yang tidak bisa disatukan, sebab keduanya memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain. Sekularisme memang baik jika difungsikan dalam negara, namun tidak akan mampu mengalahkan negara yang memberlakukan sistem keagamaan yang baik di dalamnya, minimal itu pada sektor persaudaraan antar masyarakat.

Referensi :

Rd. Datoek A. Panchoer. 2016. “Sekularisasi dan sekularisme agama” Vol 1, No. 1. Harun Nasution. 1975. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan. Jakrta: Bulan Bintang.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Agama#:~:text=Agama%20adalah%20sistem%20yang%20mengatur,menghubungkan%20manusia%20dengan%20tatana%20kehidupan.&text=Menurut%20beberapa%20perkiraan%2C%20ada%20sekitar%204.200%20agama%20di%20dunia.

Faisal Ismail. Paradigma Kebudayaan Islam : Studi Kritis dan Refleksi Historis, (Jogyakarta: Titian Ilahi Press: 1997).





Loading...




Loading...