Tips Mencapai Kebahagiaan Melalui Pendekatan Filsafat Aristoteles (Apa Itu Eudaimonia)

Ditulis oleh rahmat Pada 14 May, 2021

Bagikan :


Tips Mencapai Kebahagiaan Melalui Pendekatan Filsafat Aristoteles (Apa Itu Eudaimonia)


Teman-teman pernah berpikir tidak, sebenarnya di dunia ini apa yang paling di elu-elukan oleh seorang manusia?. Jika jawaban yang teman-teman utarakan dari pertanyaan di atas adalah "sebuah kebahagiaan", maka penulis pastikan kalau kali ini kita sependapat.

Berbicara tentang kebahagiaan, penulis rasa tak ada seorang pun yang tidak menginginkanya, sebab manusia memang butuh bahagia. Coba tanyakan ini ke orang tuamu, kesahabatmu, ketetanggamu, atau kalau perlu ke setiap penduduk bumi yang pernah kau temui.

Apakah kamu tidak menginginkan kebahagiaan, atau apakah kamu tidak ingin mencapai kebahagiaan?

Jika yang kamu tanya adalah orang waras, maka penulis yakin 100% bahwa seseorang yang kamu tanya akan menjawab "mereka menginginkan kebahagiaan, dan sama sekali tidak ingin sekali pun merasakan kesengsaraan.

Satu pertanyaan lagi, Seberapa butuhkah seseorang dengan kebahagiaan?

Jawabanya tentu sangat butuh, sebab kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat di idamkan setiap orang. Sekali lagi bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat di idamkan seorang manusia.

Karena seorang manusia membutuhkan kebahagiaan layaknya kebutuhan pokok, maka dengan alasan tersebut, seorang manusia akan melakukan apa saja untuk mencapai kebahagiaan meskipun itu buang-buang waktu, dan tidak bermanfaat sama sekali. Alasannya cukup satu, bahwa seseorang hanya ingin kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah satu hal yang bukan hanya dibutuhkan, tetapi juga sangat diinginkan, hanya saja, kebanyakan dari orang-orang tidak mengerti untuk mencapai kebahagiaan.

Bagaimana cara mencapai kebahagiaan?

Nah disini, penulis ingin memberikan beberapa cara untuk mencapai kebahagiaan berdasarkan pendekatan salah satu tokoh filsafat yang bernama aristoteles.

Ayo kita mulai pembahasannya

Menurut penulis, kebahagiaan adalah salah satu jenis perasaan yang dimiliki seorang manusia, dimana kebahagiaan ini seolah-olah mampu membuat seseorang merasa terbang ketika ia berada didaratan. Kebahagiaan ini berkaitan dengan kecukupan, perasaan senang, cinta dan sebagainya, sehingga tak akan ada seorang pun yang akan merasa bosan dengan bahagia, karena sejatinya bahagia dan bosan adalah dua sisi yang saling berseberangan_Layaknya siang dan malam.

Kebahagiaan mampu diperoleh oleh siapa saja, kapan saja, dan bagaimana pun caranya. Ada yang memperoleh kebahagiaan dengan cara nerkumpul dengan teman-teman, ada yang dengan pasangan di taman, ada yang mendapatkan strike ketika memancing hingga ikannya berhasil naik ke daratan, dan banyak jenis lainnya.

Apabila ditinjau dari berbagai macam cara untuk mendapatkan kebahagiaan, maka semua cara untuk bahagia tersebut dapat dimasukkan ke dalam dua kelompok, yaitu: 1) internal (misalnya: kesehatan, pola pokir yang dewasa dan hal-hal lain serupa yang tentunya berasal dari diri seseorang,2) external (misalnya: berkumpul dengan keluarga, dengan sahabat-sahabat dan hal lain yang serupa).

Lanjut tentang kebahagiaan, di yunani kebahagiaan di kenal dengan istilah Eudaimonia. Istilah eudaimonia ini dapat berarti kesejahteraan, kemajuan dapat pula sebagai kebahagiaan. Bagi penulis, Eudaimonia ini adalah sesuatu yang bersifat dan membutuhkan tindakan rasional, karena bagaimana pun setiap tindakan yang dilakukan dengan pemikiran yang matang akan menghasilkan akhir yang lebih baik daripada yang tidak, meskipun pada akhirnya kita juga tidak boleh menafikkan keberuntungan.

Untuk mencapai kebahagiaan, prinsip yang ditawarkan oleh Eudaimonia ini adalah ketika kita ingin mencapai kebahagiaan maka lebih baik kita fokus pada diri sendiri (internal). Eudaimonia ini membicarakan tentang.

  1. Perkembangan diri: apakah dirimu berkembang atau tidak, dan apakah perkembangan dirimu baik dan berguna untuk masa depanmu atau malah membuatmu menjadi tidak baik dan tidak berguna untuk masa depanmu?.
  2. Penerimaan diri: apakah kamu mampu menerima dirimu, menerima segala hal yang berkaitan dengan kelebihan dan kekuranganmu?.
  3. Tujuan hidup: apakah tujuan hidupmu sudah jelas, atau masih setengah jelas, atau belum jelas sama sekali, atau bahkan kamu belum pernah berpikir ke arah masa depanmu?
  4. Kemampuan atau penguasaan terhadap sesuatu: sudahkah kamu mampu menguasai dirimu dan di sekitarmu, mampukah kamu memperbaiki segala hal-hal yang membuatmu seketika tidak lagi memiliki gairah mencapai hal-hal yang telah kamu rancang, dan apakah kamu telah mampu menguasai nafsumu?

Hal-hal yang tertera di atas adalah sesuatu yang butuh keseriusan untuk menanyakannya pada diri sendiri, karena hal tersebut bukan barang sepele, dan hal yang paling sulit adalah, yang kamu wawancarai adalah dirimu sendiri. Semua pertanyaan tersebut tidak akan mampu terjawab tanpa adanga hubungan positif yang terjalin dengan dengan diri sendiri.

Kembali ke topik tentang kebahagiaan.

Salah seorang filsuf yunani yang bernama Aristoteles percaya bahwa jika kita mencari kebahagian pada orang lain atau menjadikan standar sosial sebagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan, itu sebenarnya bukan cara yang tepat untuk mendapatkan kebahagian, bahkan hal terburuknya adalah dengan menjadikan orang lain atau bersosial sebagai sumber kebahagiaan maka akan berpotensi menjadi sumber kesulitan.

Pendapat tersebut tidaklah salah karena segala sesuatu termasuk kebahagiaan tergantung dari bagaimana respon sosial terhadap kita. Jika respon sosialnya buruk maka seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan, sebaliknya apabila respon sosial baik, maka seseorang akan mencapai kebahagiaan, meski pun menurut penulis, kebahagiaan atas dasar sosial tidak akan mampu mengalahkan kebahagiaan atas dasar pribadi.

Banyak yang mungkin bertanya, bagaimana cara memperoleh kebahagiaan atas dasar pribadi? Sebab barangkali pembaca telah mengetahui dan lebih tau tentang bagaimana cara untuk mencapai kebahagiaan atas dasar sosial.

Berikut adalah beberapa cara untuk mencapai kebahagiaan.

  1. Kenali diri sendiri secara mendalam.

    Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri? Dan apakah kamu telah mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh dirimu sendiri? Pertanyaan ini didasarkan atas beberapa kejadian akibat kesalahpahaman manusia terhadap dirinya sendiri sehingga mengakibatkan seseorang ketika melakukan sesuatu yang dianggapnya membahagiakan tidak membuatnya merasakan bahagia, malah merasa bosan.

    Jika kamu telah mengenali dirimu sendiri maka lakukanlah apa yang dianggap oleh dirimu mampu untuk mencapai kebahagiaan. Mulai dari mengerjakan hal sederhana hingga ke hal yang luar biasa, asalkan kamu tidak lupa batasan dirimu sebagai manusia dan norma-norma yang berlaku dilingkunganmu. Misalnya ketika dirimu merasa bahwa memancing adalah sesuatu yang mampu memunculkan kebahagiaan dalam dirimu, maka lakukanlah hal tersebut.

  2. Mengembangkan potensi unik diri sendiri dan memaksimalkan

    Mengembangkan potensi diri sendiri bukan hal mudah, apalagi bagi orang-orang yang belum mengenali dirinya sendiri, karena bagaimanapun juga jika seseorang tidak mengerti tentang dirinya sendiri, maka dia akan kesulitan mau mengembangkan apa yang ada dalam dirinya. Hal demikian terjadi karena seseoang yang belum mengenal dirinya sendiri adalah seseorang yang bisa dikatakan buta terhadap apa yang menjadi potensi dirinya dan apa yang perlu dikembangkan dalam dirinya.

    Seseorang yang belum mengenal dirinya adalah seseorang yang akan selalu merasa bahwa dia memiliki potensi pada beberapa hal, misalnya dia mempunyai potensi di bidang musik, dia juga merasa dia memiliki potensi di bidang olahraga, dia juga merasa memiliki potensi di bidang menulis, sehingga dengan begitu seseorang akan kesulitan menentukan potensi mana yang harus dikebangkan. Ada juga segelintir orang yang bahkan tidak mengerti potensi apa yang dia miliki. Kasus seperti Ini sangat sulit, karena seseorang yang tidak memahami potensi apa yang dia miliki adalah orang yang benar-benar buta dan tak tau hal apa yang harus dia kembangkan untuk mencapai kebahagiaan. Maka dengan itu kenali dirimu terlebih dahulu, minimal untuk mengetahui potensi yang kamu miliki kemudian potensi yang kamu miliki kemudian kamu asah untuk mendapatkan peningkatan skill dan kamu dapat memaksimalkan potensi tersebut.

    Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan potensi yang kamu miliki. Kamu bisa dengan belajar hal-hal dasar mengenai potensi tersebut dan dengan bertahap kamu semakin memaksimalkan potensi tersebut. Hal yang paling penting dari pengembangan potensi yang seseorang miliki adalah tidak pernah lupa untuk mempraktekkannya berulang-ulang.

  3. Menggunakan potensi untuk mencapai kebahagiaan hidup

    Setelah mengetahui potensi apa yang ada dalam diri kita, di tambah dengan cara mengembangkan potensi tersebut maka dengan potensi yang seseorang miliki itu mampu digunakan untuk membuat seseorang mendapatkan kesenangan atau dengan kata lain, dari potensi yang seseorang miliki maka dengan potensi itu pula seseorang mendapatkan kebahagiaan.

    Misalnya seseorang yang memiliki potensi di bidang menulis, maka dengan potensi menulis itu dia gunakan untuk mencapai kebahagiaan. Seseorang bisa merasakan kebahagiaan ketika sedang menulis, apalagi ketika tulisan yang dia buat telah selesai dan isinya sesuai harapan, apalagi jika tulisan tersebut membuat seseorang mampu mendapatkan penghasilan bahkan penghargaan.

    Penulis meyakini bahwa tak seorang pun yang akan merasa sedih ketika potensi yang dia miliki dan kembangkan mampu membuatnya bahagia. Hal ini serupa dengan "Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan makanan, dengan makanan itu membuat manusia tidak lagi merasakan lapar dan dengan makanan itu pula manusia memiliki pasokan tenaga untuk mampu beraktivitas" karena makanan adalah salah satu yang mampu membuat manusia bertahan dan menjalani kehidupan, begitu pula dengan kebahagiaan mampu membuat manusia merasakan ketenangan dan dapat pula menjadi sumber energi.

Kesimpulan

Ketika ingin mencapai kebahagiaan maka percayalah pada diri sendiri dan carilah kebahagiaan dari dalam (internal) karena kebahagiaan akan benar-benar terasa apabila ia berasal dari diri sendiri, hal ini juga sekaligus menjadi penyebab seseorang tidak merasa bergantung kepada orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan atau dengan kata lain, bersosial bukan lah sumber kebahagiaan mutlak, karena dengan diri sendiri seseorang mampu untuk merasakan kebahagiaan.

Referensi :





Loading...




Loading...